Berebut Gulali di Pasar Rakyat Ciliwung

Kompas.com - 20/12/2008, 18:28 WIB

JAKARTA, SABTU - "Mas, aku mau satu yang bentuknya keris, terus coklatnya satu," celetuk Jo (8), salah seorang anak yang nampak antri membeli gulali, di Pesta Rakyat Ciliwung yang digelar di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan.

Di Pesta Rakyat ini, terdapat penjual gulali yang menjadi favorit anak-anak. Buktinya, nampak antrean anak-anak berderet mengelilingi penjual gulali tersebut. Sang penjual gulali, Indra (25) dengan telaten melayani anak-anak tersebut satu persatu.

Gulali Indra terbilang unik, bisa dibentuk dan rasanya manis. Bentuknya juga bermacam, seperti bentuk keris, bunga, kupu-kupu, atau kepala robot. Satu buah gulali hanya dijual dengan harga Rp 1.000. "Lumayan murah kan. Biasanya yang beli orang dewasa juga banyak," kata Indra, di Bukit Duri, Jakarta, Sabtu (20/12).

Ketika dagangannya dijajakan, gulali Indra masih berbentuk gula cair yang dipanaskan di atas kompor kecil. Ketika ada yang memesan, dengan lihai Indra lantas membentuk gulalinya sesuai pesanan. Dalam sehari, Indra mengaku sanggup menjual sekitar 300 buah gulali. "Kalau hari sepi bisa cuma 200, tapi dapat 300 juga sering," kata Indra, yang lebih dari 6 tahun berjualan gulali ini.

Di hari biasa, Indra berjualan gulali di sekolah-sekolah atau di mal, seperti di Mal Kelapa Gading atau di Mangga Dua. Indra menambahkan, dia sering mendapat pesanan untuk ulang tahun jika sedang berjualan di mal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau