Rukun di Kampung Halaman, Rukun di Perantauan

Kompas.com - 22/12/2008, 03:32 WIB

Oleh Anto Saptowalyono

Alem Brasih, tunis benyem,

Bintang Aim, bla wa toh,

Yesus dumah hong Betlehem,

Juru slamat itah toh,

Sembah I ewei,

Sembah I ewei

Lagu ”Malam Kudus” dalam bahasa Dayak Ngaju itu mengalun pada Minggu (14/12) di sebuah gereja pinggiran hutan kecil di Desa Buntoi, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, sekitar 180 kilometer dari Palangkaraya, ibu kota Provinsi Kalteng.

Gereja itu masih dalam tahap pembangunan, belum memiliki atap, tak berdaun pintu, pun belum berjendela.

Kayu-kayu cerucuk tempat para tukang menapakkan kaki saat membangun tembok pun masih terpasang di gedung Gereja Kristus Manang itu ketika lebih dari 800 umat Kristiani asal Buntoi—baik yang menetap di desa tersebut maupun yang merantau hingga ke Kabupaten Kapuas dan Kota Palangkaraya—datang menghadiri Buli Lewu Natal.

Buli Lewu adalah istilah Dayak yang arti harfiahnya pulang kampung. Diksi itu dengan gamblang menjelaskan, melalui acara itu para warga yang akar keluarganya berasal dari Buntoi kembali ke desanya untuk merayakan Natal bersama kerabat di kampung halaman.

Mengutip sejarah Natal 2.000-an tahun silam, Ketua Kerukunan Warga Buntoi TT Suling menyambut hadirin dengan sapaan, ”Kalau dulu pada zaman Kaisar Agustus warga disuruh balik ke kotanya masing-masing untuk disensus, kini kita juga balik ke desa. Tapi kita sekarang bukan untuk disensus, melainkan untuk merayakan kelahiran Yesus.”

Sejak pagi, para warga dari perantauan itu mulai berdatangan ke Desa Buntoi. Ada yang memilih lewat jalan lintas Palangkaraya-Bahaur yang masih berupa jalan tanah. Ada yang berangkat dari dermaga Mintin menggunakan perahu kelotok menyeberangi Sungai Kahayan yang setiap Desember debitnya tinggi dengan arus cukup deras untuk menuju desa tersebut.

Hujan lebat sore itu, yang mengguyur terpal dan membanjiri sebagian lantai gereja, tak mengurangi keakraban antarwarga. Bahkan, beberapa warga yang berdiri di luar gereja karena tidak kebagian tempat duduk saling bercanda di luar mengomentari turunnya hujan.

”Untung cuma hujan danum (air, dalam bahasa Dayak), bukan batu,” kata Tambang, seorang anggota jemaat, disambut tawa yang lainnya. Terpaan air hujan itu justru menjadi bahan meriangkan suasana perayaan Natal.

Meski dihadiri beberapa pejabat yang keluarganya berasal dari Buntoi, ketatnya aturan protokoler luluh di acara Buli Lewu Natal itu. Tidak ada lagi batas antara pejabat dan masyarakat umum pada saat Natal.

Saat Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang (kakeknya berasal dari Buntoi) berdiri di depan altar, karena didaulat menyanyi, muncul bocah lelaki Buntoi umur tujuh tahunan dengan santai melenggang di dekat Teras Narang.

Sambil melantunkan syair ”O Holy Night the stars are brightly shining...,” Teras Narang mengelus kepala si bocah yang tetap asyik sendiri.

Galang dana

Selain sebagai ajang bertemu, perayaan Buli Lewu Natal di Buntoi tersebut juga dimanfaatkan untuk menggalang dana dari seluruh jemaat. Dana akan digunakan untuk merampungkan pembangunan gereja di desa mereka.

Tidak hanya di kampung halaman, semangat kerukunan seperti itu terlihat ketika ratusan warga berduyun-duyun mendatangi Gedung Pertemuan Umum Tambun Bungai di Palangkaraya untuk mengikuti ibadat Natal bersama.

Mereka adalah jemaat Kristiani dari Kerukunan Keluarga Besar Mangkatip, Dadahup, Teluk Betung, Talio, dan sekitarnya di Kabupaten Barito Selatan.

Hujan lebat yang mengguyur sebelum acara dimulai tak menghalangi niat sekitar 800 anggota jemaat tersebut untuk berkumpul pada 13 Desember lalu. ”Saya rindu merayakan Natal bersama kerukunan ini,” kata Garin, seorang anggota jemaat.

Di pintu masuk, mereka disambut jabat tangan dan pelukan dari panitia yang tahun ini digilirkan pada keluarga-keluarga dari kawasan Mangkatip. Tiap tahun kepanitiaan Natal diserahkan bergantian dari satu keluarga ke keluarga lainnya.

Ketua Panitia Teguh Patianom menuturkan, kerukunan keluarga besar tersebut sudah berdiri lama. Terbetik kabar bahwa sejak Kota Palangkaraya mulai berdiri, embrio kerukunan keluarga besar Mangkatip, Dadahup, Teluk Betung, Talio, dan sekitarnya mulai terbentuk.

Warga dari kawasan Barito termasuk gelombang pertama penduduk yang berdatangan atau merantau ke Palangkaraya, ketika kota yang pemancangan tiangnya dilakukan Presiden Soekarno di tahun 1957 ini mulai dibangun.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada Desember ini banyak kerukunan warga dari beberapa wilayah di Kalteng merayakan Natal bersama di Palangkaraya. Kerukunan itu antara lain dari Keluarga Besar Dusmala (Dusun, Maanyan, dan Lawangan), dan Keluarga Besar Kapuas.

Perayaan Natal bersama itu kiranya mewujudkan kerukunan. Rukun di kampung halaman, rukun di perantauan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau