Langka, Elpiji 3 Kg Rp 25.000

Kompas.com - 22/12/2008, 04:09 WIB

JAKARTA,MINGGU-Kisruh penyediaan pasokan dan distribusi elpiji terus terjadi. Sebagian agen dan pengecer di Jakarta belum mendapatkan jatah pasokan normal dari Pertamina.

Harga elpiji dan tabungnya pun melambung. Isi ulang elpiji isi 3 kg termahal mencapai Rp 25.000 dan isi 12 kg mencapai Rp 85.000.

Reza Reinaldi (26), pemilik agen gas khusus menjual elpiji 3 kg di Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, Minggu (21/12), mengatakan, ia hanya mendapat jatah 50 tabung isi ulang selama lebih dari seminggu terakhir. Biasanya, Reza mendapat 100 tabung per dua hari.

”Tidak aneh kalau harganya pun melonjak. Saya menjual paling mahal Rp 18.000 per tabung, tetapi pengecer dengan gerobak bisa menjual antara Rp 22.500 dan Rp 25.000 per tabung ke konsumen,” kata Reza, Minggu.

Melambungnya harga elpiji juga terjadi di Tanah Abang dan Petamburan, Jakarta Pusat. Selain itu, masyarakat di sebagian Jakarta Selatan dan Jakarta Utara turut mengeluhkan kenaikan harga elpiji dan susahnya mendapatkan bahan bakar ini sejak awal Desember hingga kini.

Suroso (52), penjual gorengan di Jalan M Saidi Raya, Jakarta Selatan, mengatakan, sejak elpiji langka, ia berusaha bertahan sebisa mungkin. Sejak seminggu lalu, Suroso yang berjualan dibantu anaknya, Andri (21), terpaksa memakai minyak tanah lagi.

”Tekor, karena harga minyak tanah mahal, Rp 7.000 per liter. Kebutuhan untuk berjualan gorengan minimal 2 liter minyak tanah per hari. Kalau pakai elpiji 3 kg, rata-rata isi ulang dua hari sekali,” kata Andri.

Di dekat tempat Andri dan ayahnya berjualan, ada penjual bubur ayam dan penjual donat kentang. Para pedagang kecil ini mengaku senang ketika akhir 2007 mendapat tabung 3 kg elpiji dan kompor gas gratis dari pemerintah. Memakai elpiji lebih irit dan efisien ketimbang menggunakan minyak tanah.

Namun, selama setahun terakhir, pasokan elpiji berulang kali bermasalah. Aktivitas mencari rezeki pun terhambat, apalagi bahan bakar alternatif, seperti minyak tanah, kayu bakar, dan arang, juga terbatas jumlahnya serta harganya pun mahal.

Selain harga isi ulang elpiji, tabung elpiji pun naik harganya. Tabung berikut isi elpiji 3 kg dijual Rp 165.000. Padahal, normalnya di bawah Rp 130.000. Harga tabung berikut isi elpiji 12 kg Rp 800.000-Rp 1 juta.

”Saya sekarang menjual satu tabung ukuran 12 kg Rp 850.000- Rp 900.000. Beberapa pengecer lain bahkan menjualnya seharga Rp 1 juta,” kata Aden (38) di Jalan Wijaya Kusuma, Jakarta Selatan.

Kinerja buruk

Tulus Abadi dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia menyesalkan kekisruhan distribusi elpiji yang belum juga teratasi.

”Pertamina dan pemerintah jangan hanya bisa mengakui kalau ada masalah distribusi elpiji. Mereka harus bertanggung jawab karena kebijakan konversi energi dari minyak tanah ke elpiji terbukti tidak berjalan efektif.”

Menurut Tulus, hal ini terjadi karena ketidaksiapan infrastruktur yang menunjukkan buruknya kinerja pemerintah. ”Mewakili para konsumen, pekan ini juga pasokan elpiji harus kembali normal.” (NEL)

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau