KUALA LUMPUR, SENIN — Malaysia akan mengumumkan beberapa langkah pada Februari mendatang untuk memperkuat perekonomiannya. Malaysia mengalami penurunan penjualan teknologi dan angka PHK di luar perkiraan. Kenyataan itu meningkatkan kekhawatiran mengenai resesi tahun depan, menurut situs web berita yang berpengaruh, Senin (22/12).
Perbankan Malaysia termasuk kuat di Asia dan permintaan domestik untuk mendukung perekonomiannya. Namun, semakin lambannya perekonomian dunia memicu keraguan mengenai bagaimana pengaruh krisis ekonomi yang dipicu AS ini.
Perekonomian Asia Tenggara ini akan memperlihatkan serangkaian langkah tahun depan dan siap untuk mengumumkan paket stimulus lain senilai miliaran ringgit jika diperlukan, kata Malaysian Insider tanpa mengutip narasumber. Pembantu Menteri Keuangan Najib Razak mengatakan, dia tidak mengacuhkan rencana paket ekonomi.
Pemerintah mengumumkan paket senilai 7 miliar ringgit (2,02 miliar dollar AS) untuk menstabilkan perekonomian.
Data pemerintah menunjukkan bahwa 30.000 warga Malaysia kehilangan pekerjaan mereka sampai saat ini dan Kementerian Sumber Daya Manusia—yang memperkirakan lonjakan pengangguran di kuartal pertama 2009—meminta kabinet menyediakan 100 juta ringgit untuk latihan kerja bagi para pekerja. Demikian dari laporan tersebut.
Pejabat pemerintah telah diminta untuk mengajukan inisiatif untuk membantu manajer kelas menengah yang kehilangan pekerjaannya tahun depan dan menciptakan 120.000 pekerjaan untuk lulusan baru.
Turunnya permintaan untuk ekspor produk teknologi telah menghantam perekonomian negara ini. Western Digital, produsen disk drive komputer terbesar kedua dunia, telah menghentikan operasinya di negara bagian Serawak, Malaysia, dan memberhentikan 1.500 pekerjanya.
Malaysia memperkirakan ekonominya tumbuh 3,5 persen pada 2009, terendah selama delapan tahun. "Kami masih berfikir bahwa Malaysia akan terhindar dari resesi tahun depan. Namun, tidak ada satu pun yang memperoleh diskon," menurut laporan itu, mengutip pejabat pemerintah yang enggan disebut namanya.
"Sebagian besar tergantung pada kondisi mitra dagang kami yang terpuruk berkelanjutan dan level kepercayaan di dalam negeri," demikian laporan itu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang