JAKARTA, SENIN — Rupiah pada Senin (22/12) sore melorot di atas angka Rp 11.000 per dollar AS. Pelaku pasar aktif memburu mata uang uwak Sam. Nilai tukar rupiah melemah menjadi Rp 11.125/11.275 per dollar AS.
Direktur Utama PT Financorpindo Nusa, Edwin Sinaga, di Jakarta, Senin, mengatakan, merosotnya rupiah cukup besar yang menunjukkan kebutuhan dollar AS masih tinggi.
"Para pelaku pasar masih membutuhkan dollar AS dalam jumlah besar terutama menjelang liburan panjang akhir tahun ini," katanya.
Menurut dia, sejumlah isu positif yang mendukung pertumbuhan ekonomi tampaknya tidak memberikan nilai positif terhadap pasar rupiah bahkan cenderung tertekan. "Isu positif seperti mendapat pinjaman dari Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, dari Perancis dan Inggris belum mendukung pergerakan rupiah," katanya.
Bahkan, lanjut dia, Bank Indonesia (BI) sendiri telah memberikan tanda, bahwa laju inflasi Desember 2008 diperkirakan akan semakin baik yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri terus tumbuh.
"Selain itu juga pemerintah telah berusaha memperkuat pasar domestik dan mengurangi impor," ujarnya.
Ke depan, menurut dia, peluang rupiah untuk menguat kembali masih ada kalau melihat pertumbuhan pasar lokal yang semakin baik. "Apalagi ada imbauan dari para pengusaha agar bank-bank asing yang bermain derivatif hendaknya dibatasi," katanya.
Rupiah, lanjut dia, cenderung berada pada kisaran Rp 10.900 sampai Rp 11.200 per dollar AS karena pada kisaran itu rupiah bergerak naik maupun turun.
"Hal ini disebabkan pasar masih ditentukan antara supply dan demand, sedangkan isu baik positif maupun negatif masih tak menentu," ucapnya.