JAKARTA, SENIN — Meski dampak krisis keuangan global mulai terasa, ekspor Indonesia akan bertahan dan tidak akan kolaps. Produk-produk yang bisa bertahan adalah yang sumbernya berasal dari domestik seperti sektor tambang.
"Walau harga tambang turun, tapi permintaan akan tetap tinggi seperti batu bara," kata pengamat ekonomi Chatib Basri di Depdag, Jakarta, Senin (22/12).
Chatib mengatakan, dalam kondisi seperti ini kepintaran marketing sangat berpengaruh dan perusahaan dinilai harus lebih pintar dengan inovasi-inovasi produknya sehingga mampu bersaing.
Sedangkan produk garmen dan tekstil memang akan terpukul akibat krisis, tetapi untuk produk Indonesia yang memiliki kualitas bagus dapat bertahan. Chatib memperkirakan pertumbuhan ekspor nonmigas tahun depan tidak akan lebih tinggi dibanding tahun 2008.
"Lihat saja September-Oktober turunnya cukup tajam, sekitar 10,46 persen," tutur Chatib. Namun, menurut Chatib, penurunan ini bukan terjadi karena turunnya ekspor ke negara lain, melainkan dipicu oleh turunnya nilai komoditas.
Ekspor pada tahun 2006 dan 2007 awal masih berjalan normal. Ketika kenaikan harga komoditas terjadi, ekspor naik tajam sekali.
"Dan sekarang karena harga komoditas kembali normal, jadi terkesan kalau ekspor jatuh," tuturnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang