Ibu Berperan Besar pada Kreativitas Anak

Kompas.com - 22/12/2008, 20:45 WIB

JAKARTA, SENIN - Yang harus diperjuangkan sekarang ini adalah budaya unggul dan berprestasi. Untuk mencapai itu diperlukan karakter yang kuat, budi pekerti dan kreativitas yang tinggi. Di sinilah ibu berperan besar untuk mendidik dan menumbuhkan kreativitas anak.

"Kreativitas harus ditumbuhkan. Karena itu kita canangkan Tahun Indonesia Kreatif 2009," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat menghadiri peringatan Hari Ibu ke-80 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Senin (22/12).

Tema Hari Ibu ke-80 ini adalah Dengan Semangat Satu Abad Kebangkitan Nasional, Kita Tingkatkan Kiprah Perempuan Indonesia dalam Membangun Karakter dan Pekerti Bangsa menuju Indonesia yang Adil, Demokratis dan Sejahtera.

Yudhoyono dalam sambutannya menyatakan,saat ini Indonesia menghadapi sejumlah krisis fundamental. Di tingkat dunia ada perubahan iklim, krisis energi, krisis pangan, krisis keuangan dan resesi perekonomian global. "Krisis lingkungan terjadi karena ketamakan manusia. Karena itu kita harus mengurangi emisi agar tidak terjadi pencemaran CO2," kata Yudhoyono.

Krisis energi harus diatasi dengan mengurangi pemakaian BBM dari fosil. Krisis pangan harus menyadarkan bangsa Indonesia untuk mencapai kembali Swasembada Pangan. "Saya berterima kasih pada para perempuan yang memelopori diversifikasi pangan,' ucap Yudhoyono.

Sedangkan krisis keuangan harus diatasi dengan menjaga sektor riil dan mencegah PHK, juga mencegah kerawanan pangan dengan menjaga jumlah pangan yang cukup, harga yang terjangkau daya beli rakyat. Ibu diharapkan mentransfer pengetahuan pada anak-anaknya agar menjaga lingkungan dan mau menghijaukan sekitarnya melalui penanaman pohon.

Ekonomi kreatif

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyatakan, kreativitas sumber daya manusia perlu dibentuk sejak dini, dimulai dari pendidikan di dalam lingkungan keluarga, dimana peran ibu sangat menentukan dalam mendidik anaknya.

Di samping itu, sikap cinta produk dalam negeri ditumbuhkan dalam keluarga melalui pilihan-pilihan konsumsi yang sebagian besar ditentukan oleh para ibu. Oleh karena itu diharapkan para ibu mengajarkan anak-anaknya agar gemar menggunakan produk dalam negeri.

Pada kesempatan tersebut juga ditandatangani Peraturan Bersama "Peningkatan Pemberian ASI Selama Waktu Kerja di Tempat Kerja" oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta Swasono, Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari serta Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Soeparno.

Hal ini dimaksudkan agar hak-hak perempuan sebagai pekerja dan untuk mendorong peningkatan pemberian ASI di Indonesia terpenuhi secara maksimal. Ada pun yang melatarbelakangi disepakatinya Peraturan Bersama tiga menteri ini adalah semakin meningkatnya jumlah perempuan yang berkarier dan bekerja di luar rumah, sementara menyusui merupakan hak ibu dan hak-hak anak untuk mendapatkan ASI.

Penghargaan

Presiden Yudhoyono pun menyerahkan Anugerah Parahita Ekapraya (APE) yang diberikan kepada pemerintah provinsi, kabupaten/kota yang melaksanakan strategi pengarusutamaan gender, y akni untuk tingkat provinsi: Jawa Tengah (APE Utama), Lampung (APE Utama), Jawa Timur (APE Utama), Kalimantan Barat (APE Utama), Sumatera Barat (APE Utama), Banten (APE Madya), Jambi (APE Madya) dan Kepulauan Riau (APE Pratama).

Untuk tingkat kabupaten/kota yang mendapat penghargaan APE Utama yakni kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Brebes, Kabupaten Sragen, Kabupaten Tulungagung, dan kota Magelang. Sedangkan penghargaan APE Madya untuk Kabupaten Malang dan Kabupaten Bandung.

Di tingkat pusat, penghargaan APE Pratama diberikan kepada Kejaksaan Agung, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Departemen Pekerjaan Umum.

Sementara itu, Menneg PP Meutia Hatta menyerahkan penghargaan untuk tiga tokoh perempuan berprestasi yaitu, Prof Dr Ir Sri Kumalaningsih M.App,Sc (pengembangan teknologi pangan), Iravati M Sudiarso (berprestasi dan pendidik di bidang seni musik), Trisutji Djuliati Kamal (pianis-komponis).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau