NEW YORK, SENIN — Harga minyak mentah dunia mundur kembali pada perdagangan di New York, Senin (22/12) waktu setempat, karena melemahnya permintaan akibat pelambatan ekonomi global terus mengganggu pasar. Demikian dikatakan para dealer.
Minyak mentah light sweet untuk pengiriman Februari merosot 2,45 dollar AS menjadi ditutup pada 39,91 dollar AS per barrel di New York Mercantile Exchange.
Kontrak Januari telah habis masa berlakunya pada Jumat, setelah dalam perdagangan harian terpuruk ke posisi terendah 32,40 dollar AS per barrel—level terendah sejak 9 Februari 2004.
Harga minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Februari menyusut 2,55 dollar AS menjadi 41,45 dollar AS per barrel di InterContinental Exchange (ICE), London.
Minyak mentah berjangka telah jatuh sejak mencapai rekor tertinggi di atas 147 dollar AS per barrel pada Juli karena sebuah pelambatan ekonomi global telah memangkas permintaan energi dunia.
Sebuah sinyal terbaru dari melemahnya ekonomi seluruh dunia, ikon perusahaan otomotif, Toyota, Jepang, pada Senin, memproyeksikan mengalami rugi operasional untuk pertama kalinya selama ini.
Toyota, yang bersaing dengan GM untuk menjadi produsen otomotif terbesar di dunia, mengatakan menghadapi sebuah "krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya" karena pelambatan global, dan diperkirakan merugi 150 miliar yen (1,69 miliar dollar AS) tahun ini—untuk pertama kalinya sejak memulai laporan pendapatan pada 1941.
Para analis mengatakan, sekalipun ada pengurangan produksi dari kartel OPEC, itu gagal menahan penurunan harga minyak. "Di sana ada beberapa hal positif yang menjadikan fundamental mantap untuk sebuah rally yang signifikan," kata John Kilduff dari MF Global.
"Dua putaran pemangkasan produksi OPEC, sejauh ini, gagal menahan penurunan harga sejak pertengahan musim panas yang berpengaruh terhadap kredibilitas mereka."
Dalam merespons penurunan harga minyak pekan lalu, Presiden OPEC Chakib Khelil, mengatakan, kartel akan melalukan pengurangan produksi hingga harga stabil.
Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang memproduksi sekitar 40 persen dari minyak mentah dunia, pada Rabu lalu, menyepakati pemotongan produksi 2,2 juta barrel per hari (bph) dalam upaya menopang harga.
Khelil, yang juga Menteri Minyak Aljazair, mengatakan, harga minyak dapat merosot lebih jauh jika OPEC tidak melakukan penurunan pada September dan Oktober.
Namun, banyak pedagang mempertanyakan apakah seluruh anggota OPEC akan sepenuhnya melaksanakan kesepakatan pengurangan produksi terakhir tersebut.
Faktor lainnya yang memengaruhi harga adalah meningkatnya stok minyak AS. Cadangan minyak di Cushing, Oklahoma, di mana minyak mentah light sweet disimpan, berada pada kapasitas maksimum. Lebih banyaknya minyak yang diparkir di sana pada akhir sesi Jumat, tambah mereka, mendorong para investor melakukan aksi jual.
"Bagian dari alasan mengapa (minyak mentah New York crude) diperdagangkan seperti sebuah diskon menjadikan Brent turun untuk meningkatkan stok minyak mentah di Cushing, Oklahoma," kata para analis konsultan energi John Hall Associates.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang