NEW YORK, SENIN — Saham-saham AS ditutup melemah pada Senin (22/12) waktu setempat, di tengah kekhawatiran terhadap laba perusahaan dan jatuhnya penjualan ritel, termasuk memburuknya nilai properti komersial AS dalam sebuah ekonomi yang terhuyung-huyung karena resesi berkepanjangan.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 59,18 poin (0,69 persen) menjadi berakhir pada 8.519,93. Indeks komposit Nasdaq turun 31,97 poin (2,04 persen) menjadi 1.532,35 karena saham-saham teknologi berkapitalisasi besar menyeret indeks melemah. Indeks Standard & Poor’s 500 juga turun 16,24 poin (1.83 persen) menjadi 871,64.
Wall Street pada Senin dibuka dengan lebih banyak berita suram karena ikon otomotif Jepang, Toyota, memproyeksikan mengalami rugi operasional untuk pertama kalinya selama ini, saham-saham Eropa jatuh dan bank sentral China memangkas lagi suku bunganya, di tengah penurunan ekonomi global.
Karena perdagangan dimulai dalam pekan pendek-libur Natal, saham-saham terus merosot terutama pada sektor teknologi dan finansial. Demikian dikatakan analisa perusahaan Charles Schwab & Co.
"Saham perusahaan asuransi jiwa turun di tengah kekhawatiran tentang kegagalan mortgage komersial" setelah Wall Street Journal melaporkan para pengembang properti meminta bantuan pemerintah, katanya.
Surat kabar melaporkan Senin, sebuah rekor jumlah utang real estat komersial akan jatuh tempo, beberapa pengembang properti besar telah meminta bantuan pemerintah.
Para pengembang memperingatkan para pembuat kebijakan bahwa ribuan kompleks perkantoran, hotel, pusat perbelanjaan, dan gedung-gedung komersial lainnya di ambang kegagalan, penyitaan, dan kebangkrutan. Demikian laporan tersebut.
Peritel AS juga menghadapi kesulitan "di tengah kekhawatiran bahwa diskon tinggi telah digunakan untuk menarik belanja konsumen, musim dingin dan salju di banyak pasar menekan turun belanja musim libur," kata Schwab & Co.
"Volume saham yang tipis di New York Stock Exchange tampak membuat lebih buruk sesi yang melemah," kata para analis Briefing.com dalam sebuah laporannya.
"Namun, pasar saham masih dapat mengurangi penurunannya pada akhir sesi," katanya.
Penurunan awal dipimpin saham-saham teknologi berkapitalisasi besar, tetapi pelemahannya meluas ke seluruh pasar.
Saham-saham finansial juga berkinerja buruk karena para investor terus menjauhkan diri dari bank dan institusi keuangan lainnya. Wells Fargo turun 6,61 persen menjadi 27,42 dollar AS.
Menyusul proyeksi suram Toyota, sektor otomotif AS juga diperdagangkan melemah. Ford turun 12,20 persen menjadi 2,59 dollar AS, sementara General Motors jatuh 21,60 persen menjadi 3,52 dollar AS sekalipun Presiden George W Bush telah menawarkan pinjaman penyelamatan 13,4 miliar dollar AS.
Sektor energi diperdagangkan moderat karena harga minyak mentah terus melemah. Minyak mentah light sweet untuk pengiriman Februari merosot 2,45 dollar AS menjadi ditutup pada 39,91 dollar AS per barrel di New York Mercantile Exchange.
Pasar obligasi menguat pada Senin. Imbal hasil (yield) obligasi negara bertenor-10 tahun naik menjadi 2,141 persen dari 2,131 persen pada Jumat, sementara untuk obligasi negara bertenor-30 tahun naik menjadi 2,598 persen dari 2,562 persen. Harga dan yield obligasi bergerak dalam arah berlawanan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang