Hari Trikora Kobarkan Semangat Persatuan

Kompas.com - 23/12/2008, 10:14 WIB

Tanggal 19 Desember 1961 dicatat sejarah sebagai peristiwa penting bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Saat itu, Presiden Soekarno menyampaikan secara lantang Tri Komando Rakyat di depan rapat raksasa di Yogyakarta. Seruan pendiri bangsa ini menjadi titik balik yang menentukan masuknya wilayah Papua ke Indonesia.

"Oleh karena Belanda masih melanjutkan kolonialisme di tanah air kita, maka saya perintahkan kepada seluruh rakyat Indonesia, juga yang berada di Irian Barat, untuk melaksanakan Tri Komando Rakyat, yaitu 1. Gagalkan Pembentukan Negara Boneka Papua buatan Belanda, 2. Kibarkan sang Merah Putih di Irian Barat tanah air Indonesia, 3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa," ujar Kasdam XVII/Cenderawasih, Brigjen TNI Hambali Hanafiah saat membacakan amanat Panglima Kodam Cenderawasih, Mayor Jenderal TNI Azmyn Yusri Nasution, pada peringatan Trikora Ke-47 di Jayapura Provinsi Papua.

Kepala Penerangan Kodam Cenderawasih Letnan Imam Santosa, Selasa (23/12), dalam surat elektroniknya kepada Kompas mengatakan Pangdam Nasution menegaskan momentum peringatan Hari Trikora sebagai hikmah bangsa Indonesia yang tetap menginginkan fondasi persatuan dan kesatuan yang kokoh, tidak dapat lagi dipisah-pisahkan hanya karena perbedaan cara pandang dan perbedaan ras.

Panglima mengingatkan, dikomandokannya Trikora oleh Bung Karno, menandai digunakannya cara militer untuk merebut Irian Barat dengan dibentuknya Komando Mandala. Segenap kekuatan TNI/Polri dan komponen rakyat Indonesia, termasuk yang ada di Irian Barat, bahu-membahu mengusir Belanda di Irian Barat.

"Itulah catatan sejarah, yang tertulis dengan tinta emas dalam perjalanan NKRI. Sungguh sebagai kesalahan besar bagi kita generasi penerus apabila melupakan perjuangan pahlawan Trikora. Untuk itulah sekali lagi, Kodam XVII Cenderawasih, keluarga besar pejuang Trikora, Pemerintah Daerah Papua dan Papua Barat serta seluruh elemen masyarakat Papua wajib memperingati hari semangat juang Trikora ini, " ujar Panglima.

Dalam peringatan ini dibacakan teks Trikora oleh Ketua DPRD John Ibo di Lapangan PTC Entrop Jayapura yang ditirukan tokoh pejuang Irian Barat dan seluruh peserta upcara. Dalam peringatan yang bertepatan dengan Hari Infanteri itu digelar beberapa kegiatan di antaranya Pengobatan massal, tarian muda-mudi Yosim Pancar khas Papua, gerak jalan yang diikuti Siswa-siswi mulai dari tingkat sekolah dasar, menengah dan atas serta masyarakat juga TNI/POLRI.

Sekadar informasi, Hari Infanteri yang diperingati setiap tanggal 19 Desember untuk mengenang kembali peristiwa bersejarah serangan militer Belanda ke Kota Yogyakarta, yang lebih kita kenal dengan Agresi Militer II. Agresi tersebut mendapat perlawanan dari Tentara Keamanan Rakyat yang berhasil merebut kembali Kota Yogyakarta.  

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau