Soal Hutan, Pemerintah Harus Serius dan Tegas

Kompas.com - 23/12/2008, 18:58 WIB

JAKARTA,SELASA- Pengelolaan hutan sebagai sebuah komoditi, bukan aset, menyebabkan dampak kerusakan kurang diperhatikan. Parahnya, pemerintah sebagai pemegang regulasi tidak menunjukkan upaya serius untuk mereduksi dan mencegah bencana tersebut.

Hal tersebut dikemukakan Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Berry Nahdian Forqan pada sebuah diskusi di Jakarta, Selasa(23/12). "Setiap tahun bencana ekologi terus mengalami peningkatan. Tahun 2007 terjadi 205 bencana dan tahun 2008 meningkat sampai 359 kali," katanya.

Berry menjelaskan, belum adanya tawaran yang berani serta ketegasan pemerintah menjadi akar masalah sampai saat ini. Banyaknya kasus pengelolaan hutan oleh pihak swasta yang jelas-jelas merusak malah dibebaskan, bahkan diizinkan kembali operasinya.

Padahal, pengelolaan sumber daya alam (SDA) harus melihat aspek pendistribusian yang mempengaruhi keseimbangan SDA dan pengolahan dengan memperhatikan dampak lingkungan yang terjadi. Paling terpenting adalah aspek pembaharuan yang memikirkan SDA tersebut dapat digunakan kembali dalam beberapa waktu kedepan.

Sebagai contoh, 13 perusahaan besar di Riau yang diindikasikan melakukan pembalakan liar di Riau Desember ini justru dibebaskan. Polisi daerah setempat memberikan surat pemberhentian penyidikan tanpa alasan yang jelas. "Harapan Indonesia menjadi lebih baik soal penangan lingkungan, justru menjadi mimpi buruk di tahun 2008," lanjutnya.

Agenda mendesak untuk pemerintah, lanjut Berry, harus segera dilaksankan sebagai upaya penyelamatan lingkungan jangka panjang. Pemerintah harus segera mencabut seluruh peraturan dan kebijakan yang selama ini menjadi alat legitimasi untuk mengeruk keuntungan atas nama lingkungan hidup dan SDA. Selanjutnya, melakukan moratorium perizinan sampai adanya UU nasional yang interaktif menyangkut pengelolaan SDA.

Moratorium juga harus dilaksanakan untuk pembayaran dan penambahan utang sebgai upaya untuk menyelamatkan anggaran negara. Terakhir, menginvestasi aset kekayaan strategis bangsa serta sesegera mungkin menerapkan agenda nasionalisai aset.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau