Prospek Industri Migas 2009: Genit dan Sulit Diprediksi

Kompas.com - 24/12/2008, 08:52 WIB

JAKARTA, RABU Blessing in disguise. Demikian Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro kerap mengilustrasikan naik turunnya harga minyak di pasar dunia sejak 2007 lalu. Pada Mei 2007, harga minyak dunia sempat menembus  147 dollar AS per barrel. Sementara itu, pada Jumat (19/12) harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) di Nymex Energy Futures berada di posisi terendah 3,87 dollar AS per barrel.

"Kita bisa menjalani dua masa kejayaan dan terpuruknya harga minyak dalam kurun waktu yang pendek. Jadi, sekarang ini menebak harga minyak merupakan hal yang sangat sulit karena dia sangat genit dan sulit diprediksi," ujar Purnomo dalam acara Indonesia-China Energy Forum ke-3, Senin (22/12).

Bahkan, Menteri Purnomo sempat menyebut kebijakan OPEC yang memangkas produksi minyak negara-negara yang menjadi anggotanya sebesar 2,2 juta barrel per hari untuk kembali menaikkan harga tidak efektif. Salah satu penyebab utamanya adalah merosotnya permintaan minyak untuk kebutuhan produksi industri di hampir seluruh belahan dunia.

Meskipun harganya sedang terperosok dalam, namun pemerintah tetap berpandangan bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk terus berinvestasi di sektor minyak dan gas bumi. Bukan hanya Purnomo yang menegaskan hal tersebut, bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla pun menganjurkan perusahaan migas yang beroperasi di Indonesia untuk terus menambah investasinya dalam kurun waktu mendatang. Maklum, baik ongkos maupun bahan baku untuk membangun konstruksi perminyakan saat ini sedang turun.

Pemerintah sendiri menargetkan, investasi di sektor minyak dan gas bumi (migas) tahun 2009 sebesar 16,6 miliar dollar AS atau 66 persen dari keseluruhan target investasi di sektor ESDM sebesar 25,3 miliar dollar AS. Dengan membenamkan modal segar sebanyak itu, diharapkan jumlah tenaga kerja yang terserap sebanyak 56.650 orang atau 38 persen dari seluruh total target penyerapan tenaga kerja 148.900 orang.

Investasi sebesar itu rencananya dibenamkan untuk proyek-proyek hulu migas meliputi , baik blok migas yang sudah berproduksi, blok migas baru, maupun blok gas metana batu bara. Adapun untuk hilir migas terdiri dari dua kilang mini minyak bumi, satu kilang pelumas bekas, tiga kilang mini elpiji, pengangkutan gas melalui pipa, penyimpanan elpiji, penyimpanan BBM, penyimpanan LNG, niaga BBM, dan jaringan pipa gas milik PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.

Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (BP Migas) Raden Priyono optimistis, komitmen investasi 2009 yang disampaikan perusahaan-perusahaan kontraktor migas kepada pemerintah tidak akan mengalami perubahan.

"Kalau investasinya mudah-mudahan enggak berubah karena sebenarnya untuk produksi minyak Indonesia itu kan sekitar 90 persennya dari perusahaan minyak besar, dan umumnya, perusahaan internasional seperti itu tidak hanya mengandalkan pinjaman perbankan, tetapi mereka justru punya akses keuangan dari perusahaan induknya," ujar Priyono.

BP Migas sendiri menghitung rekapitulasi work, program, and budget (WP&B) atau belanja untuk kegiatan produksi migas tahun 2009 sebesar 12,9 miliar dollar AS. Angka ini melonjak ketimbang realisasi belanja, baik sampai Oktober 2008 sebesar 7 miliar dollar AS, maupun sepanjang tahun 2007 sebesar 9 miliar dollar AS.

Belanja kegiatan produksi sebesar 12,9 miliar dollar AS itu rinciannya adalah untuk kegiatan pengeboran 1.273 sumur sebesar 3,7 miliar dollar AS, pembangunan fasilitas produksi 2,8 miliar dollar AS, operasi produksi 4,7 miliar dollar AS, serta biaya administrasi umum 1,6 miliar dollar AS. Menurut Priyono, jumlahnya masih bisa bertambah karena rencana kegiatan baru diajukan oleh 53 dari 64 perusahaan kontraktor kontrak kerja sama.

Selain untuk membiayai produksi migas dari sumur yang sudah ada, anggaran sebesar itu juga untuk membiayai produksi dari sembilan lapangan yang akan onstream 2009, yaitu lapangan Tangguh (Rev.7.6 MTPA) milik BP Tangguh yang memproduksi migas sebanyak 15.600 barrel ekuivalen per hari, lapangan Blok A milik Medco E&P Malaka yang memproduksi migas sebanyak 2.895 barrel ekuivalen per hari, lapangan Anggor milik JOB Pertamina dan Costa International Group Ltd yang memproduksi gas sebanyak 897,8 barrel ekuivalen per hari.

Selain itu, ada juga lapangan Sabak yang dioperasikan BOB PT BSP—Pertamina Hulu yang memproduksi minyak sebanyak 1.065 barrel per hari, lapangan Duri Area 11 yang dioperasikan Chevron Pacific Indonesia yang memproduksi minyak sebanyak 3.000 barrel per hari. Lapangan Karang Dewa (Sumur KRD-01) milik Pertamina EP yang memproduksi migas sebanyak 999 barrel ekuivalen per hari. Lapangan Prabumenang milik Pertamina EP yang memproduksi migas sebanyak 1.726 barrel ekuivalen per hari. Lapangan Tasim (Sumur TSM 01, dan 03) milik Pertamina EP yang memproduksi migas 934,51 barrel ekuivalen per hari, serta lapangan Enggal 01 milik Pertamina EP yang memproduksi migas sebanyak 71.017 barrel ekuivalen per hari.

Namun, Priyono mengingatkan, "Dengan kondisi harga minyak yang sedang seperti ini kemungkinan perusahaan minyak hanya akan melakukan maintain produksinya saja. Cuma eksplorasi mungkin bisa agak terganggu tahun depan karena biayanya besar dan berisiko. Namun, untuk produksi tahun depan diperkirakan bisa mencapai 960.000 barrel per hari sesuai APBN. Cuma, penerimaan negara tergantung harga minyak yang tidak bisa kita prediksi," tambahnya.

Awalnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Departemen ESDM Evita Herawati Legowo memiliki kekhawatiran yang sama dengan Priyono bahwa komitmen eksplorasi perusahaan-perusahaan yang sudah ditetapkan sebagai pemenang tender maupun penunjukkan langsung 34 wilayah kerja migas 2008 akan tersendat tahun depan akibat dampak krisis keuangan global. Untuk memastikan hal tersebut tidak terjadi, Evita mengaku sudah melakukan konfirmasi kepada perusahaan-perusahaan tersebut, di antaranya Conocophillips Ltd yang memenangi wilayah kerja Arafura Sea, Chevron Pacific Indonesia yang memenangi wilayah kerja West Papua I dan III, dan Hess Ltd yang memenangi wilayah kerja Semai V.

"Saya sudah konfirmasi ke mereka, apakah dengan kondisi yang sekarang ini mereka masih komitmen untuk mengembangkan wilayah kerjanya di 2009; dan mereka nyatakan terus berkomitmen dan berjanji untuk melakukan eksplorasi," ujar Evita.

Bahkan untuk menggiatkan investasi di sektor hulu migas tahun depan, Evita menandaskan sudah menyiapkan 31 wilayah kerja baru untuk ditawarkan kepada perusahaan minyak.  Sebanyak 16 wilayah kerja ditenderkan dengan cara lelang, sementara 15 sisanya dengan penawaran langsung.

"Dokumen wilayahnya mulai 16 Desember kemarin sudah bisa diambil. Lalu pengembaliannya sampai dengan akhir Februari untuk yang penawaran langsung lalu yang melalui lelang sampai April. Toh buktinya banyak perusahaan yang mengambil dokumen tersebut. Artinya saya masih optimistis, investasi di sektor migas masih baik tahun depan," tandasnya.

Optimistis yang sama dilontarkan Presiden Indonesian Petroleum Association Roberto Lorato. Meskipun menurutnya anjloknya harga minyak dunia menyebabkan munculnya dilema bagi perusahaan untuk melakukan investasi. "Jadi yang menjadi fokus utama adalah bagaimana tetap mempromosikan investasi di sektor ini salah satunya dengan terus memberikan insentif. Tahun depan menurut saya sangat menantang, tetapi masih memungkinkan untuk mencapai target. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, dan itu tidak mudah," ujar Lorato yang juga Presiden Direktur ENI Indonesia.

Malah Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Ari Hernanto Soemarno berani bertaruh, kalau dalam tiga tahun ke depan harga minyak bisa naik lagi. Makanya, Ari juga menilai sekarang adalah waktu yang tepat untuk investasi di sektor migas. "Meskipun sekarang harga sedang turun, namun investasi perlu dilakukan untuk mengantisipasi recovery ekonomi dalam 3 tahun mendatang. Karena saya rasa dalam waktu 3 tahun ekonomi dunia akan membaik dan di saat itulah akan banyak lagi permintaan sampai melebihi kemampuan produksi dunia sehingga harga jadi naik lagi," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau