Mereka yang Bekerja dalam Senyap

Kompas.com - 26/12/2008, 16:07 WIB
Kemeriahan dan kesemarakan tidak datang tiba-tiba. Untuk mereka yang percaya pada proses, kemeriahan berawal dari sebuah kesenyapan. Termasuk kemeriahan dan kesemarakan di perayaan Natal di gereja-gereja.

”Jadi koster itu bukan kebetulan, tapi suatu panggilan,” kata Calixtus Sumadi (40-an) di belakang altar Gereja Katedral, Jakarta, Minggu (21/12).

Kata-kata itu dikutip Sumadi dari ujaran Romo Sunar Wijoyo (alm) yang menjadi Pastor Paroki Katedral tahun-tahun awal 90-an tempatnya bekerja. Merasa ditempatkan sebagai orang terpanggil dengan kata-kata itu, Sumadi selalu bersemangat menjadi koster (petugas yang menyiapkan kelengkapan peralatan untuk ibadah di gereja). Di Katedral, Sumadi telah bekerja selama 17 tahun.

Menghayati pekerjaannya sebagai panggilan, Sumadi harus memiliki kerelaan dan keikhlasan lebih untuk banyak hal yang dihadapinya. Di Katedral, Sumadi bekerja bersama Hanung Ngadino yang sama-sama berasal dari Gunung Kidul, Yogyakarta, dan Yohanes Hari Susanto dari Purworejo, Jawa Tengah. Sebagai senior, Sumadi memiliki tanggung jawab lebih untuk kelancaran misa.

Kerelaan dan keikhlasan yang digambarkan Sumadi antara lain tidak bisa merayakan Natal atau perayaan keagamaan lainnya bersama anak dan istrinya. ”Justru pada hari raya itu banyak tugas koster yang menanti,” ujar Sumadi.

Sementara Sumadi bekerja di belakang altar Katedral, istri dan anaknya ikut misa Natal di Gereja Servatius, Kampung Sawah, Jakarta Timur. Rumahnya di Kampung Sawah hanya berjarak sekitar 500 meter dari Gereja Servatius. Secara praktis, kondisi itu lebih baik dibandingkan jika keluarganya harus misa bersamanya di Katedral. Kampung Sawah berjarak sekitar 30 kilometer dari Katedral.

Kisah kurang lebih sama diujarkan Wasirin, koster yang telah bekerja di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Nehemia, Jakarta, selama 22 tahun. Rasa lelah kadang menghampirinya saat banyak pekerjaan yang harus dilakukan, terutama saat di gereja banyak kegiatan atau perayaan seperti saat Natal.

Namun, keyakinan bahwa yang dilayaninya adalah Tuhan, kelelahan itu sedikit diabaikan. ”Kelelahan itu tertutupi kegembiraan karena sebagai koster saya bisa ikut mengabdi Tuhan dengan melayani umat di gereja,” ujar Wasirin.

Wasirin asal Cilacap menjadi koster di GKJ Nehemia bersama Danu Pranoto. Sumadi, Ngadino, Susanto, Wasirin, dan Danu memaknai apa yang dilakukannya sebagai pengabdian.

Ketika ditanya suka atau dukanya bertugas di belakang altar, suka yang pertama-tama dikemukakan seperti bisa ikut melayani umat. ”Dukanya kok jarang ya. Saya menjalani tugas ini dengan bahagia dan tenang,” ujar Wasirin.

Pekerjaan para petugas di balik altar itu antara lain mempersiapkan buku doa, bacaan Kitab Suci, pakaian yang dikenakan pastor atau pendeta saat memimpin misa, dan mempersiapkan kelengkapan ibadat lainnya.

Para koster itu bekerja terutama sebelum ibadah dimulai dan setelah ibadah selesai. Ketika ibadah berlangsung, mereka tetap memantau kelancarannya sambil mengerjakan tugas-tugas rutin lain, seperti membersihkan ruang di balik altar.

Tidak banyak yang mengenali mereka. Setelah khusyuknya ibadah, para pemimpin ibadah yang biasanya diberi ucapan selamat. Mereka yang bekerja dalam senyap kerap terlewat. Mungkin ini yang namanya panggilan. (CAS/BAH)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau