”Jadi koster itu bukan kebetulan, tapi suatu panggilan,” kata Calixtus Sumadi (40-an) di belakang altar Gereja Katedral, Jakarta, Minggu (21/12).
Kata-kata itu dikutip Sumadi dari ujaran Romo Sunar Wijoyo (alm) yang menjadi Pastor Paroki Katedral tahun-tahun awal 90-an tempatnya bekerja. Merasa ditempatkan sebagai orang terpanggil dengan kata-kata itu, Sumadi selalu bersemangat menjadi koster (petugas yang menyiapkan kelengkapan peralatan untuk ibadah di gereja). Di Katedral, Sumadi telah bekerja selama 17 tahun.
Menghayati pekerjaannya sebagai panggilan, Sumadi harus memiliki kerelaan dan keikhlasan lebih untuk banyak hal yang dihadapinya. Di Katedral, Sumadi bekerja bersama Hanung Ngadino yang sama-sama berasal dari Gunung Kidul, Yogyakarta, dan Yohanes Hari Susanto dari Purworejo, Jawa Tengah. Sebagai senior, Sumadi memiliki tanggung jawab lebih untuk kelancaran misa.
Kerelaan dan keikhlasan yang digambarkan Sumadi antara lain tidak bisa merayakan Natal atau perayaan keagamaan lainnya bersama anak dan istrinya. ”Justru pada hari raya itu banyak tugas koster yang menanti,” ujar Sumadi.
Sementara Sumadi bekerja di belakang altar Katedral, istri dan anaknya ikut misa Natal di Gereja Servatius, Kampung Sawah, Jakarta Timur. Rumahnya di Kampung Sawah hanya berjarak sekitar 500 meter dari Gereja Servatius. Secara praktis, kondisi itu lebih baik dibandingkan jika keluarganya harus misa bersamanya di Katedral. Kampung Sawah berjarak sekitar 30 kilometer dari Katedral.
Kisah kurang lebih sama diujarkan Wasirin, koster yang telah bekerja di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Nehemia, Jakarta, selama 22 tahun. Rasa lelah kadang menghampirinya saat banyak pekerjaan yang harus dilakukan, terutama saat di gereja banyak kegiatan atau perayaan seperti saat Natal.
Namun, keyakinan bahwa yang dilayaninya adalah Tuhan, kelelahan itu sedikit diabaikan. ”Kelelahan itu tertutupi kegembiraan karena sebagai koster saya bisa ikut mengabdi Tuhan dengan melayani umat di gereja,” ujar Wasirin.
Wasirin asal Cilacap menjadi koster di GKJ Nehemia bersama Danu Pranoto. Sumadi, Ngadino, Susanto, Wasirin, dan Danu memaknai apa yang dilakukannya sebagai pengabdian.
Ketika ditanya suka atau dukanya bertugas di belakang altar, suka yang pertama-tama dikemukakan seperti bisa ikut melayani umat. ”Dukanya kok jarang ya. Saya menjalani tugas ini dengan bahagia dan tenang,” ujar Wasirin.
Pekerjaan para petugas di balik altar itu antara lain mempersiapkan buku doa, bacaan Kitab Suci, pakaian yang dikenakan pastor atau pendeta saat memimpin misa, dan mempersiapkan kelengkapan ibadat lainnya.
Para koster itu bekerja terutama sebelum ibadah dimulai dan setelah ibadah selesai. Ketika ibadah berlangsung, mereka tetap memantau kelancarannya sambil mengerjakan tugas-tugas rutin lain, seperti membersihkan ruang di balik altar.
Tidak banyak yang mengenali mereka. Setelah khusyuknya ibadah, para pemimpin ibadah yang biasanya diberi ucapan selamat. Mereka yang bekerja dalam senyap kerap terlewat. Mungkin ini yang namanya panggilan. (CAS/BAH)