PAN DIY Usung Amien Rais Capres 2009

Kompas.com - 27/12/2008, 15:56 WIB

YOGYAKARTA, SABTU — Partai Amanat Nasional (PAN) DI Yogyakarta mencalonkan mantan Ketua Umum DPP PAN Amien Rais sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden 2009.

Ketua DPW PAN DIY Immawan Wahyudi mengatakan, pihaknya mengusung Amien Rais sebagai capres karena Amien Rais adalah tokoh reformasi yang masih konsisten. Amien diharapkan bisa menghidupkan kembali reformasi yang kini dinilai sudah salah arah dan mati. Immawan mengatakan, pencapresan Amien Rais tidak hanya didukung DPW DIY dan DPD PAN se-DIY, tetapi juga aspirasi keluarga besar PAN DIY, seperti Barisan Muda Penegak Amanat Nasional.

"Alangkah naifnya kalau yang punya bapak reformasi justru tidak mengangkat beliau sebagai capres," ujar Immawan pada acara Orientasi Pemenangan Pemilu dan Deklarasi Amien Rais sebagai Capres PAN 2009, Sabtu (27/12) di Yogyakarta.

Atas pencalonanya itu, Amien Rais menyatakan bersedia, tetapi meminta pendukungnya di PAN realistis melihat situasi politik nasional.

"Saya terima dukungan itu. Cuma Anda harus tahu bahwa jalannya memang masih panjang. Bisakah kita mengumpulkan 20 persen kursi di DPR, dan 25 persen suara dari jumlah pemilih, kira-kira kok kita belum nyampai," ungkap Amien Rais, yang kini menjabat Ketua Majelis Pertimbangan Partai PAN.

Amien mengungkapkan, dirinya telah berkeliling Indonesia untuk mengetahui seberapa besar dukungan masyarakat terhadap PAN. Hasilnya, PAN akan sulit meraih 20 persen suara DPR. Dengan UU Pilpres baru, PAN harus bekerja sama dengan parpol lain supaya bisa memenuhi syarat 20 persen kursi DPR, dan 25 persen jumlah pemilih agar bisa mengusung capres sendiri.

Jika syarat itu terpenuhi, tantangan berat lain harus dihadapi yaitu ketersediaan dana pemilu dalam jumlah besar. Soal dana, Amien mengakui, PAN kalah jauh dibandingkan dengan Partai Demokrat, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Golongan Karya, Partai Gerakan Indonesia Raya, dan Partai Hati Nurani Rakyat.

Menurut Amien, ada enam syarat utama yang harus dimiliki untuk memenangkan pilpres 2009, yaitu uang, massa, dukungan militer, dukungan media massa, dan restu Amerika Serikat (AS), dan restu Illahi. "Soal dana, kompetitor kita lebih aduhai," ujarnya.

Meskipun bukan segala-galanya, tetapi dana memegang syarat utama. Setiap aktivitas kegiatan kampanye dipastikan membutuhkan dana, seperti untuk membuat umbul-umbul, selebaran, hingga konsumsi tim sukses. Selain itu, ungkap Amien, seorang capres yang tidak mendapatkan dukungan militer akan terseok-seok. "Militer punya pengalaman politik yang panjang," ungkapnya.

Tidak kalah menentukan adalah restu sekaligus dukungan dari negara adi kuasa AS. Menurut Amien, AS memiliki cara untuk memengaruhi supaya apa yang menjadi kepentingan AS terwujud, termasuk capres yang didukung agar terpilih.

Amien berpendapat, saat ini ada dua kandidat capres yang memiliki peluang paling kuat, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri. Namun, dari kedua nama itu, hampir tidak ada perbedaan dalam visi dan misi serta platform yang diusung. Menurut Amien, keduanya sama-sama penganut ekonomi pasar bebas atau ekonomi liberal. "Kalau satu dari dua terpilih, saya mengatakan tidak akan ada perubahan, hanya ada kontinuitas," ucapnya.

Karena itu, diperlukan kekuatan alternatif sebagai penanding. Kekuatan alternatif bisa dibentuk dari koalisi parpol-parpol kelas menengah. Amien menuturkan, telah memulai pembicaraan dengan pimpinan Partai Persatuan Pembangunan soal kemungkinan membuat poros baru.

"Parpol kelas menengah bisa membentuk Poros Penyelamatan Bangsa, yang platform-nya lain dengan kedua beliau. Namun, apa waktu tiga bulan cukup waktu untuk sosialisasi. Tetapi saya masih melihat celah," ungkapnya.

Amien tidak mau berkomentar saat ditanya siapa nama capres alternatif yang paling tepat untuk menandingi SBY dan Megawati. Termasuk saat dimintai tanggapan tentang Sultan Hamengku Buwono X yang sudah mendeklarasi menjadi capres 2009, Amien juga menolak berkomentar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau