Korban Perahu Tenggelam Ditemukan Tewas

Kompas.com - 28/12/2008, 14:57 WIB

CILACAP, MINGGU — Sebanyak dua korban yang tenggelam bersama perahu saat mengangkut 2.000 bibit tanaman sengon milik Perhutani Cilacap di Sungai Donan, Cilacap, pada Sabtu (27/12), berhasil ditemukan dalam keadaan tewas, Minggu (28/12), sekitar pukul 11.00.

Berdasarkan informasi dari Rukun SAR Bengawan Donan, jasad Poniman (50) berhasil ditemukan pukul 11.00, sedangkan Sukarso (48) ditemukan tujuh menit kemudian.

"Kedua korban ditemukan sekitar 0,25 mil sebelah timur lokasi kejadian, sedangkan perahu yang tenggelam telah diangkat tadi pagi sekitar pukul 08.25," kata anggota Rukun SAR Bengawan Donan, Abu Yahya. Jenazah Poniman dan Sukarso segera dibawa ke RSUD Cilacap untuk menjalani visum.

Seperti yang diwartakan sebelumnya, dua pekerja borongan tempat pembibitan tanaman keras milik Perhutani Cilacap tersebut bernama Poniman (50) dan Sukarso (48), warga RT 02 RW 02 Kelurahan Donan, Kecamatan Cilacap Tengah, Kabupaten Cilacap. Mereka tenggelam pada hari Sabtu (27/12), sekitar pukul 09.00, di saat mendapat pekerjaan borongan untuk mengantarkan 2.000 bibit sengon ke daerah Jojok, Kelurahan Kutawaru, Kecamatan Cilacap Tengah, menggunakan perahu jukung yang terbuat dari fiber.

Namun, saat berlabuh sekitar 500 meter dari dermaga milik Perhutani, perahu tersebut tenggelam. Bahkan, keduanya sempat berteriak minta tolong. Warga di sekitar lokasi kejadian berusaha menolong mereka, tetapi mesin-mesin perahu yang hendak digunakan, tidak bisa dinyalakan sehingga Poniman dan Sukarso tak dapat diselamatkan.

Sejumlah saksi mata menduga kecelakaan tersebut disebabkan angin kencang yang mengakibatkan riak air sungai menjadi besar sehingga masuk ke dalam perahu yang dipenuhi benih tanaman sengon. Menurut warga, Poniman sebenarnya bisa berenang karena berprofesi sebagai nelayan, sedangkan Sukarso yang bekerja sebagai penjaga malam tempat pembibitan tersebut diperkirakan tidak bisa berenang. "Mungkin karena panik, mereka tidak bisa menyelamatkan diri," kata seorang warga, Gino.

Selain itu, pengiriman bibit tanaman keras tersebut biasanya dengan dikawal seorang polisi hutan, tetapi kali ini tanpa pengawalan. Menurut informasi, seorang polisi hutan bernama Junaedi yang seharusnya mengawal pengiriman tersebut terlambat datang sehingga dia berencana menunggu di tempat pembongkaran muatan di daerah Jojok.

Upaya pencarian terhadap dua korban tersebut dilakukan oleh petugas gabungan antara lain dari Basarnas Kabupaten Cilacap, SAR Wijayakusuma, dan Satpol Air Polres Cilacap.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau