Mencicipi Sedapnya Laba Usaha Bumbu Curah

Kompas.com - 29/12/2008, 06:16 WIB

Belakangan ini banyak orang lebih memilih cara yang lebih praktis, termasuk dalam hal bumbu masakan. Acapkali, orang malas bila harus membuat bumbu masak sendiri. Selain rumit, tangan juga bakal belepotan dengan rempah-rempah bumbu. Karenanya, banyak membeli bumbu jadi di pasar. Neken Jamin Sembiring menangkap petuang ini.

Di kota besar, orang maunya serba praktis. Begitu pula dengan urusan dapur. Soal bumbu masakan, misalnya, orang tak mau repot-repot mengolah, entah itu memblender, memarut, mengulek, dan seterusnya. Kalau ada yang siap saji, entah itu dalam kemasan instan maupun gilingan pasar, tentu orang lebih condong ke pilihan ini.

Tentu saja, kebutuhan ini memunculkan peluang bisnis menguntungkan, yakni membuat bumbu giling siap pakai. Salah satu pemain besar di Jakarta adalah Neken Jamin Sembiring. Ia merintis usaha bumbu giling di pasar sejak tahun 1977. Belakangan, ia memberi kemasan dan merek bumbunya Gerak Tani. "Bumbu sudah menjadi kebutuhan pokok," ujarnya.

Dengan dibantu sang istri, Sembiring rutin menebar bumbu di sejumlah pasar tradisional di Jakarta. Sebut saja Pasar Kramat Jati dan PasarJatinegara. Selain pasar tradisional, orang juga bisa menemukan bumbu Gerak Tani di sejumlah pasar swalayan.
Maklum, bumbu hasil racikan Sembiring sangat beragam, mulai bumbu soto, gulai, rendang, rawon, opor, sampai bumbu masakan asing.

Selama ini, langganan Sembiring bukan saja dari kalangan ibu rumah tangga, tapi juga usaha katering. Secara rutin, ia juga memasok 50 jenis bumbu ke perusahaan katering yang biasa melayani maskapai penerbangan. "Saya menjual bumbu mentah di pasar. Kalau buat katering, biasanya bumbu sudah matang," jelas bapak dua anak ini.

Dalam sehari, Sembiring mampu menjual setengah ton bumbu. Omzetnya bisa mencapai Rp 6 juta per hari. la mengaku mengambil laba bersih minimal 10 persen dari nilai omzet.

Sembiring serius menekuni usahanya ini. Buktinya, ia sangat selektif memilih rempah-rempah sebagai bahan dasar pembuatan bumbu. "Saya sangat memperhatikan kualitas," ucapnya. Ia mendatangkan aneka cabai segar dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sembiring juga sengaja berbelanja asam gelugur, kelapa gongseng, dan daun kunyit langsung dari Medan Sumatra Utara. Dengan bahan baku yang cukup berkualitas itu, Sembiring menjamin bumbu buatannya berkualitas. "Kami menyajikan puluhan varian bumbu. Bukan saja untuk menu masakan Indonesia tapi juga untuk masakan  luar," jelasnya lagi.

Selama ini, Sembiring mengolah bumbu-bumbu itu di Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi ini. la mengklaim, bumbu olahannya bisa tahan antara 6 bulan sampai -1 tahun, asal masih dalam kemasan. "Kami tidak menggunakan bahan pengawet," katanya. la mengaku bekerjasama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional menyinari bumbu dengan sinar gama sehingga bisa tahan lama. (Kontan)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau