WALHI: Selamatkan Lingkungan Bali

Kompas.com - 30/12/2008, 14:28 WIB

DENPASAR, SELASA — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Daerah Bali mengirim surat kepada Gubernur Made Mangku Pastika agar pemerintah daerah setempat mengambil tindakan tegas sebagai upaya menyelamatkan lingkungan hidup dari terjangan pengembangan pariwisata. 

"Tindakan tegas itu sangat penting, mengingat kelestarian lingkungan di Bali sedang meradang," kata Direktur WALHI Bali Agung Wardana di Denpasar, Selasa (30/12). 

Menurut dia, jika masalah kelestarian lingkungan tidak segera ditangani dengan melakukan moratorium pariwisata, hal itu akan menyebabkan semakin banyak konflik perebutan ruang hidup dan kerentanan ekologi Bali di masa mendatang.

"Gubernur Pastika yang dipilih langsung oleh masyarakat pada awal tahun pemerintahannya menunjukkan kinerja keberpihakan pada lingkungan hidup," ujar Agung Wardana.

Ia menilai, Gubernur Pastika mengambil tindakan tegas terhadap pelaksanaan sejumlah proyek yang merusak kelestarian lingkungan alam Bali. Tindakan tegas tersebut diharapkan tetap dipertahankan dalam menjaga alam lingkungan Bali di tengah pesatnya pembangunan fasilitas pariwisata.

Ketidakseimbangan alam Bali mulai terlihat jelas tahun 2008, terbukti terjadinya banjir yang menimpa Kabupaten Badung, Gianyar, dan kota Denpasar. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau