JAKARTA, SELASA — Kebijakan pemerintah menurunkan harga BBM pada 1 Desember lalu ternyata tak membuat popularitas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden M Jusuf Kalla meningkat. Setidaknya itu yang terungkap dalam refleksi akhir tahun yang digelar Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), Selasa (30/12), yang antara lain mengurai hasil survei yang dilakukan pada Mei dan November-Desember 2008.
Direktur Eksekutif Puskaptis Husin Yazid memaparkan, popularitas SBY-JK justru lebih tinggi pada bulan Mei dibandingkan pada November-Desember. Padahal, pada bulan Mei pemerintah menaikkan harga BBM.
Pada bulan Mei, elektabilitas SBY-JK 29,41 persen, sementara pada survei yang dilakukan 24 November-3 Desember 2008 elektibilitas SBY-JK turun drastis menjadi 19,90 persen.
"Ketika ada krisis global, menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat. Dengan adanya penurunan harga minyak, elektabilitasnya menurun karena popularitas SBY tidak diikuti oleh kebijakan-kebijakan prorakyat," kata Husin Yazid di Jakarta.
Sebanyak 38,43 persen responden menyatakan tak yakin SBY-JK dapat membuat keadaan bangsa lebih baik dalam sisa kepemimpinan satu tahun ke depan. Sebanyak 35,46 persen menyatakan yakin dan 26,11 persen tidak menjawab.
Responden sebagian besar (22,64) menginginkan perbaikan dan pemenuhan kebutuhan di sektor ekonomi, kemudian disusul perluasan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan.
Metodologi diragukan
Pengamat politik Syamsuddin Harris yang hadir dalam kesempatan yang sama mengatakan, hasil survei Puskaptis ini cukup mengejutkan. Oleh karena itu, menurut dia, harus dilihat dari validitas metodologinya.
"Bagaimana kemampuan hasil survei ini membaca kecenderungan realitas politik. Kalau metodologinya valid, berbeda dengan hasil survei yang dilakukan lembaga lain, masih OK. Karena hasilnya cukup mengejutkan, melihat belakangan ini kebijakan SBY kan lebih populis, seperti menurunkan harga BBM. Di bidang penegakan hukum, Aulia Pohan ditahan. Ini kan bisa menjadi faktor yang menguntungkan popularitas SBY. Saya belum begitu yakin dengan hasil ini," papar Syamsuddin.
Survei ini sebelumnya sudah pernah di-launching pada awal Desember lalu. Responden survei melibatkan 1.355 orang yang tersebar di 33 provinsi dengan metode stratafied random sampling. Margin eror 3-5 persen, dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang