Laporan wartawan Kompas Siwi Nurbiajanti
PEMALANG, SELASA- Korban meninggal dalam kecelakaan perahu di muara Laut Jawa, Desa Asem Doyong, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang bertambah menjadi 12 orang. Korban terakhir ditemukan Selasa (30/12) sekitar pukul 19.00, tidak jauh lokasi kejadian. Hingga saat ini, prose s evakuasi masih berlangsung.
Koordinator Tim SAR Wilayah Karesidenan Pekalongan Henky Susilo Hadi mengatakan, evakuasi sempat terhambat ombak besar. Meskipun demikian, posisi korban sudah dipastikan, dan hingga saat ini evakuasi masih berlangsung.
Sore sebelumnya, korban meninggal masih dinyatakan 11 orang. Secara keseluruhan, jumlah penumpang perahu tersebut diperkirakan mencapai 65 orang. Dengan ditemukannya korban terakhir, masih terdapat dua korban lain yang belum ditemukan. Data tersebut diperoleh dari laporan warga yang merasa kehilangan keluarganya.
Perahu tradisional yang dikemudikan Suharjo (48), nelayan asal Desa Asem Doyong terbalik di muara Laut Jawa, saat mengangkut para peserta sedekah laut yang ingin melarung sesaji, Senin pagi. Sedekah laut merupakan ritual tahunan yang diselenggarakan setia p tanggal 1 Muharam, oleh nelayan Desa Asem Doyong.
Hengky mengatakan, hasil pendataan sehari sebelumnya, korban selamat hanya sekitar 25 orang. Namun ternyata, terdapat sekitar 51 penumpang yang selamat. Sebagian dari mereka langsung pulang ke rumah masing-masing usai kejadian. Mereka baru melapor ke pet ugas, pada Senin malam atau Selasa pagi.
Menurut dia, pencarian masih terus dilakukan, dengan menyisir wilayah perairan pantura, mulai Batang Hingga Pemalang. Pada Selasa sore, pencarian bergeser ke arah timur (Batang), karena arus air bergerak ke timur. "Besok pagi kami akan menjemput bola, den gan bergerak dari timur ke barat, karena korban kemungkinan sudah bergerak ke timur," ujarnya.
Selain itu, masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarganya diharapkan segera melapor. Laporan tersebut akan dicocokkan dengan data yang ada.
Dari pantauan, sebagian besar nelayan masih belum melaut. Mereka terlihat berkumpul di pinggir laut, sambil menyaksikan proses pencarian. Menurut Rudin (30), warga setempat, nelayan memilih tidak melaut karena baru saja tertimpa musibah. Padahal biasanya, usai sedekah laut mereka berbondong-bondong melaut, karena yakin hasil yang diperoleh melimpah.
Nahkoda tersangka
Kepala Kepolisian Resor Pemalang Ajun Komisaris Besar Bambang Sukardi mengatakan, pengemudi perahu, Suharjo, dinyatakan sebagai tersangka. Ia dijerat pasal 359 KUHP, tentang kelalaian yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia.
Dari hasil penyelidikan, muatan perahu terlalu berat, sehingga kandas. Pada saat yang bersamaan, muncul ombak besar yang mengakibatkan air laut masuk ke perahu, sehingga mesin mati. Ombak yang masih tinggi menghantam perahu hingga terbalik.
Ketua Panitia Sedekah Laut, Utoyo, mengatakan, kapasitas perahu seharusnya maksimal 25 orang. Sebenarnya, panitia sudah memperingatkan para pemilik perahu, untuk tidak membawa penumpang melebihi kapasitas.
Suharjo saat ditemui di Polres Pemalang mengatakan, kapasitas perahunya memang hanya dua ton. Ia juga mengaku tidak memiliki surat izin operasi perahu maupun izin menjadi nahkoda. "Jumlah penumpang lebih dari 30 orang," katanya.
Sebenarnya, ia enggan menjalankan perahu, karena jumlah penumpang terlalu banyak. Namun karena terus diminta oleh penumpang, ia akhirnya menjalankannya. Meskipun demikian karena acara sedekah laut belum dimulai, ia hanya berkeliling sungai, hingga ke muara.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang