Korban Perahu Terbalik Bertambah Menjadi 12 Orang

Kompas.com - 30/12/2008, 20:40 WIB

Laporan wartawan Kompas Siwi Nurbiajanti

PEMALANG, SELASA- Korban meninggal dalam kecelakaan perahu di muara Laut Jawa, Desa Asem Doyong, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang bertambah menjadi 12 orang. Korban terakhir ditemukan Selasa (30/12) sekitar pukul 19.00, tidak jauh lokasi kejadian. Hingga saat ini, prose s evakuasi masih berlangsung.

Koordinator Tim SAR Wilayah Karesidenan Pekalongan Henky Susilo Hadi mengatakan, evakuasi sempat terhambat ombak besar. Meskipun demikian, posisi korban sudah dipastikan, dan hingga saat ini evakuasi masih berlangsung.

Sore sebelumnya, korban meninggal masih dinyatakan 11 orang. Secara keseluruhan, jumlah penumpang perahu tersebut diperkirakan mencapai 65 orang. Dengan ditemukannya korban terakhir, masih terdapat dua korban lain yang belum ditemukan. Data tersebut diperoleh dari laporan warga yang merasa kehilangan keluarganya.

Perahu tradisional yang dikemudikan Suharjo (48), nelayan asal Desa Asem Doyong terbalik di muara Laut Jawa, saat mengangkut para peserta sedekah laut yang ingin melarung sesaji, Senin pagi. Sedekah laut merupakan ritual tahunan yang diselenggarakan setia p tanggal 1 Muharam, oleh nelayan Desa Asem Doyong.

Hengky mengatakan, hasil pendataan sehari sebelumnya, korban selamat hanya sekitar 25 orang. Namun ternyata, terdapat sekitar 51 penumpang yang selamat. Sebagian dari mereka langsung pulang ke rumah masing-masing usai kejadian. Mereka baru melapor ke pet ugas, pada Senin malam atau Selasa pagi.

Menurut dia, pencarian masih terus dilakukan, dengan menyisir wilayah perairan pantura, mulai Batang Hingga Pemalang. Pada Selasa sore, pencarian bergeser ke arah timur (Batang), karena arus air bergerak ke timur. "Besok pagi kami akan menjemput bola, den gan bergerak dari timur ke barat, karena korban kemungkinan sudah bergerak ke timur," ujarnya.

Selain itu, masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarganya diharapkan segera melapor. Laporan tersebut akan dicocokkan dengan data yang ada.

Dari pantauan, sebagian besar nelayan masih belum melaut. Mereka terlihat berkumpul di pinggir laut, sambil menyaksikan proses pencarian. Menurut Rudin (30), warga setempat, nelayan memilih tidak melaut karena baru saja tertimpa musibah. Padahal biasanya, usai sedekah laut mereka berbondong-bondong melaut, karena yakin hasil yang diperoleh melimpah. 


Nahkoda tersangka

Kepala Kepolisian Resor Pemalang Ajun Komisaris Besar Bambang Sukardi mengatakan, pengemudi perahu, Suharjo, dinyatakan sebagai tersangka. Ia dijerat pasal 359 KUHP, tentang kelalaian yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia.

Dari hasil penyelidikan, muatan perahu terlalu berat, sehingga kandas. Pada saat yang bersamaan, muncul ombak besar yang mengakibatkan air laut masuk ke perahu, sehingga mesin mati. Ombak yang masih tinggi menghantam perahu hingga terbalik.

Ketua Panitia Sedekah Laut, Utoyo, mengatakan, kapasitas perahu seharusnya maksimal 25 orang. Sebenarnya, panitia sudah memperingatkan para pemilik perahu, untuk tidak membawa penumpang melebihi kapasitas.

Suharjo saat ditemui di Polres Pemalang mengatakan, kapasitas perahunya memang hanya dua ton. Ia juga mengaku tidak memiliki surat izin operasi perahu maupun izin menjadi nahkoda. "Jumlah penumpang lebih dari 30 orang," katanya.

Sebenarnya, ia enggan menjalankan perahu, karena jumlah penumpang terlalu banyak. Namun karena terus diminta oleh penumpang, ia akhirnya menjalankannya. Meskipun demikian karena acara sedekah laut belum dimulai, ia hanya berkeliling sungai, hingga ke muara.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau