JAKARTA, SELASA - Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 di harapkan akan berada pada level 4,5 persen - 5,5 persen, dengan inflasi sebesar 6 persen. Hal itu dikatakan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam temu wicara dengan pelaku usaha seusai penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Selasa (30/12). "Tahun ini akan ditutup dengan koreksi, growth mungkin akan turun. Tapi kami optimistis kuartal empat 2008, growth agak di bawah 6 persen. Dengan overal 2008 akan end up di 6,1 persen,” jelasnya.
Lebih lanjut Sri Mulyani mengatakan tahun 2009 pertumbuhan ekonomi akan lebih banyak berasal dari faktor domestik. Karena dari sisi ekspor saja berada sekitar 18 persen maka dengan ini kebijakan pemerintah berperan penting.
Selain itu, inflasi juga akan mengalami penurunan, dikatakan Menkeu, penyebabnya selain harga BBM yang turun dua kali, harga komoditas lain juga ikut turun. "Inflasi turun konsisten, selain harga komoditas, rupiah juga sudah temukan equilibrium yang diterima sebagai titik baru sesuai environment, untuk perhitungan baru," ujar Menkeu.
Terkait dengan inflasi Desember, Sri Mulyani mengatakan untuk bulan Desember akan mengalami deflasi dan untuk YoY-nya tergantung dari deflasi yang dialami pada bulan tersebut. “Untuk YoY sekitar 11 persen atau berada di bawah itu sedikit," jelasnya.
Meski diperkirakan akan mengalami deflasi, Menkeu masih merasa belum cukup puas. “Pemerintah harus bekerja lebih keras lagi dan lebih baik lagi dari yang sudah dilakukan pada saat ini,” ujarnya.
Pada 2009 saat dilangsungkan pemilu, Sri Mulyani mengatakan pemerintah bertugas untuk menjaga keamanan dan kepastian agar perekonomian bisa berjalan dan bisa mendapatkan benefit dari pesta demokrasi tersebut. “Momen pemilu, diharapkan perekonomian masih berjalan, karena partai-partai akan membelanjakan dananya dan ini momentum yang harus ditangkap,” katanya.
Menghadapi PHK massal yang diperkirakan terjadi pada tahun depan, pemerintah juga akan mengeluarkan kebijakan ekonomi baru untuk meningkatkan daya beli masyarakat.
Dikatakan Sri Mulyani, ekonomi domestik menjadi sangat penting karena sekitar 80 persen GDP Indonesia disumbang dari faktor domestik. Sementara 18 persen sisanya disumbang dari kegiatan ekspor.
"Saya lihat, ekonomi kita lebih dari 80 persen berasal dari domestik. Karena itu policy pemerintah jadi penting. Kalau kita lihat 2009, tantangan untuk menjaga momentum domestik growth. Agar konsumsi tidak drop banyak," katanya.
Selain itu, pemerintah juga berharap daya konsumsi masyarakat tetap ada di level yang bagus dengan tetap memberikan gaji ke-13 bagi PNS, dan menaikkan gaji mereka 15 persen serta memberikan tambahan pendapatan bagi guru dan dosen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang