Titik Nol (108): Dukun

Kompas.com - 01/01/2009, 00:46 WIB
[Tayang:  Senin - Jumat]


Air lucah terciprat dari mulutnya, membasahi wajah saya yang menguning. Kakek tua ini adalah dukun sakti. “Tiga hari lagi, kau akan sembuh!”

Siapa yang tak kenal kakek tua ini. Semua orang di pasar Paharganj menganjurkan saya mencarinya.

          “Kawan,” kata seorang pedagang buku bekas, “maafkan saya kalau lancang. Kamu kena jaundis?”

Saya mengangguk.

          “Saya kenal seorang sakti di Paharganj sini. Semua penderita hepatitis sembuh total dalam hitungan hari. Dan penyakit kuning itu tidak akan muncul kembali.”

Si pedagang buku itu menceritakan kesaksiannya. Dulu dia langganan menderita jaundis, setiap tahun selalu kena. Sampai suatu hari, kawan-kawannya mengajaknya untuk bertemu dengan dukun Hindu yang sakti ini.

          “Saya sebenarnya ragu,” ceritanya, “siapa yang percaya dengan dongeng seperti ini? Tetapi si kakek tua itu tenang sekali. Suaranya datar namun tegas. ‘Saya akan membayarmu seribu rupee kalau penyakitmu ini kambuh lagi tahun depan!’”

Dan ajaib, sakit kuningnya tinggal kenangan.

Sebenarnya saya tidak terlalu percaya dengan sihir-sihiran atau sakti-saktian. Tetapi dalam keadaan lemah seperti ini, terjepit oleh visa India yang akan habis tiga hari lagi, saya pun berpikir tidak ada salahnya mencoba.

Menyusuri gang-gang Paharganj yang ruwet seperti benang kusut untuk mencari seorang dukun penyembuh hepatitis tampaknya bukan pekerjaan yang mudah. Anehnya, setiap pemilik toko yang saya temui langsung tahu apa yang saya cari. Tak cuma pemilik toko, bahkan pegawai kantor pos, tukang rickshaw, sampai bocah penyemir sepatu semua kenal dengan ‘orang sakti’ ini.

          “Kamu datang ke tempat yang tepat,” kata seorang pemilik warung, “kakek yang satu ini sudah tidak perlu diragukan lagi kesaktiannya. Semua yang datang, hari pertama matanya langsung putih, hari kedua kulitnya kembali normal, hari ketiga penyakit kuning itu lenyap sama sekali dan tidak akan kembali lagi. Dijamin!”

Kakek itu tokonya persis di sebelah warung tempat saya makan sekarang. Ia membuka usaha bengkel reparasi mesin.

Ada sebersit rasa ragu dalam hati saya. Haruskah saya mencoba sesuatu yang nyaris tak masuk di akal ini? Dokter Gurpreet bilang penyakit kuning sembuh dalam waktu minimal dua minggu, itu untuk kasus yang paling ringan. Angka bilirubin saya terlalu tinggi dan perlu istirahat total yang cukup lama untuk menurunkannya.

Tetapi pengobatan kan bukan hanya dari Rumah Sakit Lady Hardinge. India terkenal akan tradisi pengobatannya yang sudah melewati lintasan beberapa milenia. Ayurveda, yang arti harafiahnya pengetahuan panjang umur, adalah sistem pengobatan tradisional Hindu yang mengandalkan obat-obatan herbal namun penuh sugesti akan daya magis yang dipancarkan ramuan sederhana itu. Banyak contoh kasus orang yang sakit parah sehingga dokter pun angkat tangan tetapi langsung sembuh setelah menenggak ramuan obat alternatif Ayurveda.

          “Jangan sampai ada rasa ragu,” kata pemuda pemilik warung, “yang penting adalah keyakinan. Keyakinan itulah yang akan membuatmu sembuh.”

Apa salahnya mencoba? Toh tidak ada ruginya sama sekali. Setidaknya kakek di sebelah rumah ini tidak pernah memungut bayaran dari pasiennya.

Pemuda pemilik warung itu mengantar saya ke tetangganya. Ia berteriak-teriak memanggil si kakek. Orang-orang di Paharganj yang selalu bising nampaknya semua memang hobi berteriak. Si kakek keluar tergopoh-gopoh dari dalam bengkelnya yang kotor. Bajunya sudah dekil, sedekil bengkelnya yang gelap dan penuh dengan onderdil hitam.

Ia tak nampak istimewa. Wajahnya, jenggotnya, kumisnya, rambut putihnya, semuanya nampak seperti orang kebanyakan. Yang membuatnya sedikit berbeda adalah sepasang matanya yang kuning pekat. Jauh lebih kuning daripada penderita penyakit hepatitis mana pun yang pernah saya lihat.

Bukankah kakek ini adalah dukun penyembuh penyakit kuning? Mengapa ia tidak menyembuhkan sendiri matanya yang kuning itu? Apakah ia ‘menghisap’ penyakit kuning orang-orang dan menumpuknya dalam tubuhnya sendiri.

Si kakek memeriksa bola mata saya dengan kedua tangannya, bak dokter profesional. Kemudian dia mengamati jari-jari saya, menggenggamnya di antara kedua telapak tangannya. Mulutnya berkomat-kamit membaca mantra yang saya tidak tahu apa artinya.

Mantra dan doa terus mengalir dari mulut tuanya. Saya kikuk sekali. Ragu, takjub, terkesima, semua bercampur jadi satu.

Sekarang ia mengambil secangkir susu mentah. Di atas susu itu ia melantunkan mantra-mantra lagi. Nadanya naik turun, tetapi sangat cepat. Dari mulutnya ia meludahkan sesuatu ke dalam susu itu. Saya disuruh minum susu yang sudah diludahinya. Saya menenggak cepat-cepat, tak ingin mencicipi setetes pun rasanya, mendorong teguk demi teguk susu bercampur ludah itu supaya segera masuk ke kerongkongan.

Kakek itu mulai berbicara.

          “Kamu boleh makan apa saja yang kamu mau, kecuali daging, minyak, dan obat dokter. Setengah jam lagi kamu minum susu mentah yang dicampur soda. Besok dan besok lusa kamu datang lagi ke sini. Tiga hari lagi kamu sembuh.”

Sambil bicara, air ludah terus menciprat dari mulutnya, membasahi wajah saya yang kuning.

Saya tak punya waktu untuk terus mengunjungi dukun ini. Malam ini juga saya harus berangkat ke Amritsar, lekas-lekas menyeberang ke Pakistan karena visa India saya sudah hampir habis.

Malam itu pemilik losmen terkejut melihat saya.

          “Hai, matamu sudah tidak sekuning tadi pagi!”

Saya melihat wajah saya di cermin. Bola mata saya sudah putih!

(Bersambung)

_______________
Ayo ngobrol langsung dengan Agustinus  Wibowo di Kompas Forum. Buruan registrasi!

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau