NEW YORK, RABU - Transaksi perdagangan di akhir tahun 2008 di Wall Street berakhir sedikit membaik walaupun kondisi sedang tidak sehat terburuk sejak Great Depression. Pada perdagangan Rabu 931/12), hari terakhir di tahun 2008, indeks Dow Jones Industrial Average naik
Tahun 2008, kekacauan ekonomi dunia berlangsung di luar perkiraan pasar. Pasar kredit lumpuh, menyebabkan Amerika Serikat semakin terperosok ke dalam resesi. Investor memindahkan dananya dari pasar saham ke pasar komoditas. Sehingga harga-harga saham anjlok sementara harga-harga komoditas melonjak, bahkan harga minyak dunia sempat melejit ke posisi tertinggi dalam sejarah, yakni pada 147 dollar AS per barrel.
Di akhir tahun 2008, banyak analis pasar yang memperkirakan kondisi ekonomi tahun 2009 akan membaik. Namun, proses pemulihan ini akan berjalan lambat karena para investor masih kaget akibat hancurnya portofolio mereka. Sebagian besar perusahaan AS, dan juga dunia, hingga kini tetap enggan untuk membeli portofolio.
"Pasar sedang membutuhkan stabilisasi, peningkatan pendapatan, dan beberapa sinyal positif sebelum mulai membaik," ujar Chief Economist Oppenheimer Funds Inc. Jerry Webman.
Fakta-fakta yang terjadi di Wall Street tahun 2008 membuktikan bahwa tahun ini mengkhawatirkan:
Rata-rata harga saham yang terdaftar di New York Stock Exchange terjun bebas 45 persen dari 75,01 dollar AS di awal tahun menjadi 41,14 dollar AS di akhir tahun.
Indeks Dow Jones Industrial Average jatuh 33,8 persen, dan 38 persen dibandingkan bulan Oktober 2007. Ini merupakan masa terburuk Dow Jones sejak Great Depression 1931
Indeks Standard and Poor's-500, indikator yang paling dirujuk oleh pasar, tergelincir 38,5 persen tahun ini.
Investor kehilangan dana sebesar 6,9 triliun dollar AS akibat penurunan nilai saham di pasaran. Jumlah ini, berdasarkan Indeks Dow Jones Wilshire 5000, merupakan 38 persen dari nilai total saham di bursa-bursa di AS pada awal tahun ini.
Namun, setidaknya, apa yang terjadi minggu ini sedikit menenangkan hati. Dengan kembali menguatnya Wall Street pada perdagangan di hari terakhir di tahun 2008. Sebelumnya, Nasdaq sempat mencatat peningkatan tinggi 5.048,62 pada bulan Maret 2000, sebelum era dot-com berakhir. Indeks Russell 2000 pun meningkat 16,68 poin, atau 3,46 persen, menjadi 499,45.
Sementara itu, melonjaknya harga minyak dunia sempat mengguncang pasar. Pada bulan Mei 2008, harga minyak dunia masih bertengger di kisaran 112 dollar AS per barrel, namun pada tanggal 11 Juli harga minyak melesat ke angka yang tidak pernah diduga pasar, yaitu 147,27 dollar AS per barrel. Hal ini memicu harga bensin di AS melejit ke atas 4 dollar AS per galon, pasar saham tertekan dan melorot di tengah-tengah ketakutan bahwa masyarakat akan memotong anggaran belanjanya akibat tingginya harga bahan bakar.
Namun pasar sempat tenang kembali, sebelum akhirnya drama bankrutnya lembaga investasi keuangan Wall Street, Lehman Brothers Holdings Inc, menebarkan rasa panik di Wall Street dan pasar kredit. Bank, karena takut lembaga keuangan lainnya tidak mampu mengembalikan pinjaman, akhirnya menghentikan aliran kreditnya. Akibatnya, pasar kertas berharga mandek, dan suku bunga pun meningkat.
Satu-satunya bagian yang menenangkan pasar kredit adalah kesedian pemerintah AS untuk memberikan bantuan pinjaman. Para investor membutuhkan jaminan uang yang menguap ke surat-surat utang (Treasury issues), terutama hutang jangka pendek.
Kekacauan di Wall Street tahun 2008 tidak terjadi dalam sehari, seperti yang terjadi pada peristiwa 26 Oktober 1987, dimana kejatuhan mencapai 22,6 persen per hari. Namun, apa yang melanda Wall Street tahun ini mirip peristiwa Black Monday karena volatilitas jual beli saham tidak berakhir cepat.
Dari tanggal 15 September hingga 20 November, ketika Indeks Dow Jones jatuh hingga 7.552,29, saham-saham blue chips ini (saham-saham unggulan), rontok tiga digit selama 41 hari dari 46 hari transaksi.
Wall Street berharap ada tanda-tanda perbaikan ekonomi di semester kedua tahun 2009, dengan ditandai meningkatnya jumlah dana yang dipinjamkan bank, pasar rumah yang menyentuh kelas bawah, dan turunnya angka pengangguran, serta diikuti dengan meningkatnya daya beli masyarakat.
Pemerintah AS tengah meredam kepanikan pasar dengan menggelontorkan dana 700 miliar dollar AS untuk menopang perbankan serta memberikan talangan industri otomotif AS. Sementara itu, bank sentral AS, the Federal Reserve (the Fed), memangkas tingkat suku bunga hingga hampir mendekati angka nol untuk mengurangi biaya pinjaman.
Turunnya harga minyak dunia, yang bertengger pada posisi 44,60 dollar AS per barrel, Rabu, serta harga-harga komoditi lainnya, diharapkan dapat menggenjot perekonomian. Namun, pasar modal dikhawatirkan akan terus mengalami stagnansi karena masih banyak bank yang belum menyalurkan kreditnya secara maksimal.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang