Gara-gara Istri Selingkuh, Suami Merampok Taksi

Kompas.com - 01/01/2009, 13:27 WIB

Laporan wartawan Kompas Clara Wresti

JAKARTA, KAMIS - Gara-gara sang istri mengaku telah selingkuh hingga hamil dengan sahabatnya, seorang laki-laki bernama Dwi Arianto (22) nekat merampok sebuah taksi di Pondok Rangon, Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (30/12) pukul 21.15. Setelah ditangkap polisi, Dwi mengaku senang dipenjara karena tidak perlu melihat istrinya lagi.

"Dia dikenakan pasal 365 KUHP karena penganiayaan dan percobaan perampokan," kata Kasat Serse Jakarta Timur, Komisaris Roycke Harrilangie, Kamis (1/1).

Menurut pengakuan Dwi, ketika mengetahui kehamilan kedua istrinya ini merupakan hasil selingkuhan, kepalanya langsung merasa pusing. Dia lalu nongkrong di bengkel motor milik temannya. Di sana dia menemukan tali kopling motor bekas dan langsung berpikir untuk merampok.

Dwi yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang asongan ini lalu menyetop taksi Blue Bird yang melintas di perempatan Pasar Rebo. Dari sana, Dwi minta diantar ke Pondok Rangon. Setibanya di Jalan Raya Pondok Rangon, tepat depan kantor Kelurahan Pondok Rangon, Dwi menjerat leher sopir taksi bernama Rahmad Fajar Sidik (41).

Rahmad yang kaget lehernya dijerat langsung menginjak rem dengan cepat, sehingga jeratan tali kopling agak mengendur. Pada saat itu juga, Rahmad langsung mengambil kunci roda dan memukulkannya ke pipi kanan Dwi. Setelah itu, Rahmad pun berlari keluar mobil minta tolong.

Untunglah, saat itu ada patroli dari Polsek Cipayung yang sedang melintas. Dwi pun langsung diamankan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau