Fadel Mundur dari Capres DIB

Kompas.com - 05/01/2009, 19:05 WIB

JAKARTA, SENIN - Mana yang akan dipilih, loyal pada partai atau tetap pada komitmen, maju dalam pertarungan Pilpres 2009?  Semula, kedua pilihan ini sulit untuk dijawab, namun akhirnya salah satu harus dipilihnya. Gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad, salah satu tokoh Golkar yang menyatakan siap bertarung sebagai capres, akhirnya menyatakan mundur. Dalam perbincangan dengan Persda Network, Senin (5/1), Fadel mengaku, ia mendapat tekanan sekaligus merasa memiliki tanggung jawab besar sebagai Ketua DPD Golkar Provinsi Gorontalo.

"Saya menyatakan mundur sebagai capres karena saya ingin membela anak buah saya di Gorontalo. Kasihan nanti anak buah saya, lebih baik saya fokus di partai saja dan saya akan loyal terhadap Golkar," katra Fadel Muhammad.

Sebelumnya, Fadel Muhammmad  bersama Marwah Daud Ibarahim, Yuddy Chrisnandi dan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X tercatat sebagai peserta Konvensi yang diadakan oleh Dewan Integritas Bangsa (DIB) yang diprakarsai oleh adik Gus Dur, Solahuddin Wahid atau Gus Solah.  Fadel, mengaku rencananya dirinya akan secara resmi menyatakan pengunduran diri melalui surat yang akan diserahkan kepada Gus Solah pada Rabu (7/1) besok.

"Suratnya sedang saya persiapkan, dan Insya Allah pada tanggal 7 (Januari-Red) nanti akan saya serahkan secara resmi pengunduran diri saya.  Biarlah saya loyal kepada Golkar saja karena saya memang harus membela para anak buah saya di Gorontalo," aku Fadel.

Politikus Golkar ini sempat membuat sensasi, berbeda dari para politikus yang lain. Beberapa waktu lalu, dirinya menyatakan akan melepas jabatannya sebagai Gubernur Gorontalo dan ingin menjadi calon wakil rakyat. Namun, niatnya tak terkabul lantaran Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla tak juga memberikan restu. Berbagai manuver politik kemudian ia lakukan sampai-sampai Jusuf Kalla curiga kepada Fadel, dekat dengan PDI Perjuangan dan dicurigai, salah satu kandidat yang akan mendampingi Megawati Soekarnoputri.

Bahkan, saat peluncuran buku miliknya di Bentara Budaya, milik Kompas pada tahun lalu, Sekjen DPP PDI Perjuangan Pramono Anung secara terang-terangan meminang Fadel bila memang ingin menjadi caleg PDI Perjuangan. Namun, pinangan Pramono Anung, hanya dijawab dengan senyuman.

Nama Fadel, sebelumnya juga sudah kerap disebut-sebut sebagai kandidat kuat calon pendamping Megawati. Ketika itu, Fadel mengakui secara jujur bila dirinya sudah kerap didekati oleh beberapa petinggi PDI Perjuangan, khususnya tokoh PDI Perjuangan dari kawasan Indonesia Timur. Seiring dengan berjalannya waktu, nama Fadel Muhammad, seakan dianggap sebagai musuh para petinggi Partai Golkar. Dalam Rakernas Partai Golkar tahun lalu, Fadel secara terang-terangan meminta agar Golkar lebih baik berkoalisi dengan PDIP, atau mengajukan calon presiden dari internal Golkar, tak usah mengambil posisi nomor dua (cawapres).

Manuver politik Fadel tak berhenti sampai disitu. Ia kemudian menyatakan ikut dalam Konvensi yang dilakukan oleh Gerakan Integritas Bersatu (GIB). Selain Fadel Muhammad, Yuddy Chrisnandi, Sri Sultan dan Marwah Daud Ibrahim, beberapa tokoh diantaranya juga menyatakan ikut dalam Konvensi GIB. Termasuk, capres Rizal Ramli.

"Ini memang pil pahit yang harus saya telan dari Golkar, akan tetapi saya terima. Yang jelas, DPP Partai Golkar tidak memberikan restu kepada saya. Mungkin, kalau saya tidak mendapat tekanan, saya tidak akan mundur (sebagai capres dan cawapres)," katanya.

Sedianya,  di bulan Januari ini, DIB akan melakukan road show bersama dengan kandidat capres lainnya. Sedianya, road show akan dilakukan hingga bulan Maret mendatang. (Persda Network/Rachmat Hidayat)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau