JAKARTA, SELASA — Tekanan terhadap rupiah, Selasa (6/1) sore, agak berkurang dengan masuknya Bank Indonesia ke pasar. Posisi beli rupiah berada pada Rp 10.850 per dollar AS, sedangkan untuk jual ada pada Rp 11.100 per dollar AS.
Direktur Utama PT Financorpindo Edwin Sinaga di Jakarta, Selasa, mengatakan, berkurangnya tekanan negatif pasar terhadap rupiah karena Bank Indonesia (BI) kembali melakukan pengawasan ketat terhadap bank-bank asing yang bermain valas. "Selain itu, BI masuk ke pasar dengan melepas cadangan dollarnya agar tekanan terhadap rupiah berkurang," ucapnya.
Meski demikian, lanjut dia, posisi rupiah masih berada di atas level yang aman setelah mampu bertahan beberapa pekan di bawah angka Rp 11.000 per dollar AS. "Karena itu, ke depan, rupiah masih berpeluang kembali menguat, apalagi pemerintah berusaha mencari dana tambahan untuk mendorong sektor rill tumbuh," katanya.
Kucuran dana pemerintah sebesar Rp 50 triliun, menurut dia, yang akan ditujukan ke sektor usaha mikro kecil dan menengah merupakan langkah yang tepat karena sektor tersebut merupakan sektor yang tahan banting. "Apalagi pertumbuhan ekonomi nasional sebagian besar didukung oleh sektor tersebut," ujarnya.
Ia mengatakan, ke depan, rupiah masih berpeluang untuk menguat menyusul membaiknya inflasi Desember yang mengalami inflasi minus (deflasi) 0,04 persen sehingga akan menekan suku bunga acuan (BI Rate) kembali bergerak turun. "Apabila BI Rate turun maka diperkirakan suku bunga bank juga akan bergerak turun meski tidak dalam waktu yang bersamaan," ucapnya.
Edwin Sinaga mengatakan, besarnya tekanan terhadap rupiah yang terjadi sejak pagi sampai sore ini karena meningkatnya pembelian dollar oleh pelaku pasar.
Menurutnya, pelaku pasar membeli dollar AS dalam jumlah besar yang terpicu oleh membaiknya mata uang asing itu terhadap mata uang utama Asia.