Berkalang Tanah demi Kedaulatan

Kompas.com - 07/01/2009, 07:04 WIB

Suara Ismail Radwan, seorang pemimpin Hamas, yang disiarkan lewat radio dan televisi terdengar jelas. ”Gaza tidak akan panik. Yang akan terjadi justru sebaliknya, Gaza akan menjadi kuburan bagi kalian semua tentara Israel.”

Pernyataan Radwan itu jelas menegaskan sikap penduduk Gaza menghadapi gempuran tentara Israel yang membabi buta sejak 27 Desember lalu. Korban tewas pun terus berjatuhan. Lebih dari 600 orang tewas dan 3.000 orang lainnya luka-luka.

Posisi geografis Jalur Gaza yang tidak menguntungkan tidak membuat pejuang Hamas kecil hati. Jalur Gaza adalah sebuah wilayah yang terletak di bagian tenggara Tanah Palestina.

Bagian barat wilayah ini memangku Laut Mediterania sepanjang 41 kilometer, sedangkan bagian utara dan timur berbatasan dengan Israel sepanjang 51 kilometer. Panjang wilayah Palestina lebih kurang sama dengan jarak dari Jakarta ke Bogor.

Bagian selatan Jalur Gaza berbatasan dengan Mesir sepanjang 11 kilometer. Lebar ini tidak lebih panjang dari jarak Kampung Rambutan-Pondok Indah, Jakarta.

Dengan posisi geografis seperti itu, akan sangat mudah bagi Israel untuk mengepung wilayah Jalur Gaza: yakni dari utara, timur, dan barat dengan memblokade jalur laut. Satu-satunya jalan keluar dari Jalur Gaza adalah lewat selatan, yang berarti ke Mesir, antara lain melewati pintu gerbang Rafah, kota di garis perbatasan Jalur Gaza dan Mesir.

Jalur Gaza berpenduduk 1,5 juta jiwa etnis Arab-Palestina dengan komposisi 99 persen Muslim mayoritas Sunni dan 0,7 persen Kristen. Wilayah ini, yang dikuasai oleh kelompok Hamas, adalah bagian dari Otoritas Palestina (ditambah Tepi Barat dan Jerusalem Timur). Jumlah penduduk Palestin sekitar 4 juta jiwa: 88 persen Muslim, 2,4 persen Kristen, dan 9 persen Yudaisme.

Cerita Jalur Gaza adalah cerita masa lalu. Wilayah ini sudah disebut-sebut sebelum Masehi. Nama Palestina berasal dari nama ”suku bangsa laut” yang diperkirakan berasal dari Pulau Kreta, yakni Filistin yang pada suatu masa menduduki wilayah itu. Mereka menguasai Gaza (City), Askhkelon, Ashdod, Gath, dan Ekron.

Wilayah yang ditinggali Filistin itulah yang oleh orang Yunani kemudian disebut Palestina. Palestina adalah lafal Yunani dari bahasa Ibrani, yakni pleshet, yang berarti ”Tanah Suku Filistin”. Sebutan itu terus digunakan hingga kini.

Penduduk Jalur Gaza saat ini diyakini bukan keturunan Filistin masa lalu. Mereka sebagian besar adalah Arab-Palestina yang meninggalkan kampung halaman saat pecah perang 1948 dari daerah yang kini masuk wilayah Israel. Sebagian kecil adalah penduduk lokal yang disebutkan sebagai Arab-Mesir karena wilayah ini pernah dikuasai Mesir, bahkan di zaman firaun.

Jalur Gaza pernah dikuasai Utzmaniah (Otoman) sejak tahun 1517 sampai tahun 1917 saat kekhalifahan itu runtuh. Setelah itu masuk dalam mandat Inggris sampai tahun 1947 kemudian pecah perang 1948. Setelah perang, Gaza dikuasai Mesir hingga 1948 lalu direbut Israel tahun 1967.

Sebenarnya, tahun 1947, Majelis Umum PBB menerbitkan Resolusi 181 tentang ”Partition Plan for Palestine” yang membagi Palestina menjadi dua: negara Arab dan Yahudi. Namun, Arab menolak pembagian itu dan perang pun berlanjut.

Kedaulatan

Hasil perang 1967 membuat perjuangan bangsa Palestina untuk mewujudkan sebuah negara Palestina semakin berat. Israel masih tetap menduduki Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Jerusalem Timur yang merupakan wilayah Negara Palestina Merdeka. Untuk itulah mereka hingga kini terus berjuang melawan Israel lewat berbagai cara, baik diplomasi maupun perang.

Tekad itu pula yang dipegang teguh dan diperjuangkan Hamas yang memilih jalan berbeda dengan Fatah (Otoritas Palestina pimpinan Presiden Mahmoud Abbas), yakni jalan diplomasi.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa Hamas secara militer harus berjuang mati-matian menghadapi Israel. Akan tetapi, kekalahan militer bukan berarti kekalahan psikologis dan moral seperti halnya Hezbollah saat menghadapi Israel di Lebanon selatan tahun 2006. Kemenangan moral dan psikologis itulah yang akan menjadi senjata perjuangan Hamas sampai cita-cita rakyat Palestina terwujud: negara Palestina berdiri! (ias)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau