Vaksinasi Flu Burung Harus Diikuti Restrukturisasi Perunggasan

Kompas.com - 07/01/2009, 20:40 WIB

JAKARTA, RABU -  Vaksinasi flu burung pada unggas seharusnya segera diikuti dengan restrukturisasi sektor perunggasan. Hal ini untuk mencegah penyebaran virus flu burung dari unggas kepada manusia. Untuk itu, komitmen pemerintah pusat dan daerah maupun para pemangku kepentingan perlu diperkuat agar berbagai upaya itu bisa dilakukan secara berkelanjutan.

Demikian disampaikan Ketua Pelaksana Harian Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI) Bayu Krisnamurthi, Rabu (7/1), saat dihubungi di Jakarta.

Peneliti dari Tropical Disease Diagnostic Center (TDDC) Universitas Airlangga, drh CA Nidom menegaskan, restrukturisasi industri perunggasan mendesak dilakukan. Hal ini bisa dilakukan dengan melarang perdagangan ayam hidup di pasar unggas, mengontrol lalu-lintas unggas antar daerah, dan melarang peternakan unggas di kawasan pemukiman. "Pengendalian flu burung tidak bisa hanya dilakukan peternak, tetapi harus berskala nasional," kata Nidom.

Bayu menyatakan, kebersihan pasar tradisional unggas harus dijaga , melarang perdagangan unggas hidup di pasar-pasar tradisional. Sayangnya, upaya ini kurang berjalan di banyak daerah. Sebab, banyak pemerintah daerah yang kemudian tidak mau, mempertanyakan dari mana biaya dan siapa yang bisa melaksanakannya. "Prioritas anggaran pemda masih untuk hal lain," ujarnya menambahkan.

Bahkan, keberadaan Komite Daerah Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiaga an Menghadapi Pandemi Influenza di sejumlah tempat juga dipertanyakan efektivitasnya. "Banyak pihak yang menanyakan mengapa harus membentu Komda untuk menanggulangi flu burung, sedangkan penyakit lain tidak perlu ada komite daerahnya," kata Bayu menegaskan.

Sejauh ini, pihaknya terus menggalakkan kampanye penanggulangan flu burung. Hasilnya, berdasarkan hasil survei tentang persepsi masyarakat terhadap flu burung dengan responden sebanyak 3.400 orang di wilayah Jawa bagian barat pada tahun 2008 memperlihatkan, sebanyak 97 persen dari responden tahu tentang flu burung. Padahal, pada tahun 2007, persentasenya hanya 63 persen dari total responden.

Sementara itu, persentase orang yang paham cara mengantisipasi bahaya flu burung sebesar 67-68 persen. Padahal, pada tahun 2007, persentasenya hanya 31 persen. Hal ini memperlihatkan masyarakat semakin peduli terhadap bahaya flu burung dan tahu cara mencegah penularannya dari unggas kepada manusia, kata Bayu menambahkan.

Ia mengimbau agar masyarakat tidak khawatir dengan kurangnya efektivitas vaksin flu burung sebagaimana dipaparkan dalam sejumlah hasil penelitian. Selama ini kan penularan flu burung justru terjadi pada saat hendak dikonsumsi. Dalam lima tahun terakhir ini tidak ada satu pun peternak yang terkena flu burung. Jadi, yang perlu diperhatikan adalah saat menangani unggas ketika hendak dikonsumsi, ujarnya.

Kalau hendak mengonsumsi unggas, sebaiknya cuci tangan dengan sabun, daging ayam dicuci bersih dan dimasak sampai benar-benar matang. Telur yang hendak dimasukkan ke dalam lemari es juga terlebih dulu dicuci, kata Bayu menjelaskan. Di tengah kepungan virus flu burung, masyarakat harus bisa mengatasinya dengan berbagai upaya preventif yang sebenarnya mudah dilakukan.

 

 

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau