193 WN Myanmar dan Bangladesh Terdampar di Sabang

Kompas.com - 07/01/2009, 22:33 WIB

SABANG, RABU - Sebuah kapal layar yang mengangkut sebanyak 193 warga negara Myanmar dan Bangladesh ditemukan nelayan terdampar di perairan antara Pulau Seulako dan Pulau Rondo atau sekitar 2 Mil Laut dari Dermaga Lanal Sabang. Keberadaan mereka ditemukan para nelayan sekira pukul 08.00 wib pagi tadi.

Proses evakuasi kapal beserta penumpang dimulai sekira pukul 10.14, dibantu dua boat pancing milik nelayan setempat. 15 menit berselang, Kapal TNI AL (KAL) Simeulue ikut membantu upaya penarikan kapal tersebut. Namun, karena kuatnya arus dan ombak upaya itu dibatalkan.  

Mengingat banyak penumpang, KAL Simeulu yang semula direncanakan untuk mengevakuasi penumpang juga diurungkan, lantaran para penumpang berebutan naik ke KAL.  Akhirnya, hanya tiga penumpang yang kritis akibat dehidrasi dan kelelahan saja yang dievakuasi lebih dulu ke Dermaga Lanal.

Tiga pengungsi yang sempat dievakuasi lebih dulu dengan KAL Simeulu teridentifikasi bernama Muhammad Nasir (27), Amir Husin (20), dan Muhammad Rafiq (20). Saat dimintai keterangan, Nasir yang mengenakan kemeja yang sudah lusuh dan berkain sarung putih ini tampak menitikkan air mata. Sekilas ia menyebutkan kapal yang mereka tumpangi sempat dihempas angin dalam pelayaran dari Thailand menuju Malaysia. "Kami tidak tahu, tidak bisa lagi ke Malaysia," katanya dalam bahasa Inggris terpatah-patah.

Pantauan wartawan Serambi Indonesia, sekira pukul 11.00 wib, Kapal Layar sepanjang 15 Meter itu berhasil ditarik dua boat nelayan. Uniknya, kapal tersebut hanya dilengkapi dua terpal hitam sebagai layar yang diikat pada dua tiang kayu tanpa mesin.

Konstruksi kapal hampir mirip dengan kapal-kapal nelayan di Aceh. Hanya saja bagian depannya agak sedikit rendah. Bermodal dua layar itulah mereka mengembara dari Myanmar hingga terdampar di Pulau Weh.  

Setelah berhasil merapat di Dermaga Lanal, sebanyak 193 penumpang tampak berjejal di pinggir dermaga, mereka yang dilanda dehidrasi dan kelaparan itu tampak berebutan naik dermaga. Namun para petugas meminta mereka tertib dan naik satu per satu melalui tangga. Sesampai di atas dermaga, sebagian yang lemah langsung jatuh terkulai. Sebagian lainnya tampak duduk saling berangkulan.  

Wajah mereka tampak gelap dan pucat. Aura ketakutan, trauma, stres dan kepedihan tergambar jelas di raut wajah mereka. Beberapa di antaranya sempat histeris dan meneriakkan  Allahu Akbar!, Alhamdulillah, sebagai rasa syukur setelah selamat dari pelayaran laut yang tak bertepi.

Tak lama kemudian relawan RAPI, PMI Sabang dan aparat TNI/Polri dan dari Pemko Sabang memberikan bantuan logistik berupa penganan ringan dan air minum kemasan. Ramainya kerumunan warga yang ikut menyaksikan membuat upaya pemberian bantuan sempat terhambat. Hanya selang beberapa menit, sejumlah pengungsi yang kritis terpaksa dilarikan ke RSU Sabang dan RSAL J Lilipory.  

Data Sempat Simpang Siur

Data jumlah para pengungsi Myanmar dan Bangladesh awalnya sempat simpang siur. Sekira pukul 10.00 sempat mencuat kabar di antara penumpang terdapat ibu-ibu dan anak perempuan dengan jumlah penumpang bervariasi. Ada sumber yang menyebutkan penumpang mencapai 300, sebagian lainnya menyebutkan 158, dan 200.

Komandan Pangkalan TNI AL Sabang Kolonel Yanuar Handwiono kepada wartawan mengatakan jumlah pengungsi 193 orang. Hingga siang tadi, 37 di antaranya dirawat di RSAL J Lilipory, 45 di RSU Sabang dan 113 beristirahat di lapangan Dermaga Lanal Sabang. Sedangkan tujuh lainnya meninggal di tengah laut.  

Yanuar juga menyebutkan keberadaan kapal itu sudah sempat terdeteksi radar TNI AL pada Rabu dini hari. Namun kepastian keberadaan kapal itu baru diperoleh dari warga pada pagi harinya.  Untuk menangani pengungsi tersebut, kata Danalal pihaknya terus berkoordinasi dengan PMI, RAPI, Kodim, Polres serta Pemko Sabang.

Sementara itu Wakil Walikota Sabang, Islamuddin ST mengatakan Pemko akan memberikan logistik sekadarnya. Karena persoalan pengungsi antarnegara itu akan ditangani oleh Departemen Luar Negeri melalui Ditjen Imigrasi. "Saya dapat informasi dari Kepala Imigrasi, IOM akan membantu mereka,"kata Islamuddin.

Terancam

Sejumlah sumber menyebutkan motivasi pengungsian warga Myanmar dan Bangladesh tersebut disebabkan kondisi mereka yang terancam di negaranya. Kemudian mereka memilih untuk pergi dari negaranya dengan tujuan ke beberapa negara Asia terdekat, seperti Thailand dan Malaysia. Namun, karena kesulitan komunikasi masih belum bisa dipastikan.  

Riza Putra Kurnia dari Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang  Sabang ketika dikonfirmasi menyatakan pihaknya belum bisa memberikan keterangan mengenai hal itu. Karena belum ada komunikasi intens dengan WN Myanmar dan Bangladesh itu. Pasalnya, hingga pukul 16.00 sekitar 113 pengungsi di Dermaga Lanal sedang menjalani pemeriksaan kesehatan oleh Dinas Kesehatan Karantian Sabang.
 
"Kami juga sedang mempersiapkan tiga tenda di Dermaga Lanal untuk menampung mereka. Sore ini juga PMI Sabang akan membagikan pakaian kering kepada mereka, biar kondisinya lebih segar,"kata Riza. (fs)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau