Di Mana Tokoh Hamas?

Kompas.com - 08/01/2009, 08:51 WIB

Di mana para tokoh Hamas, di mana PM Jalur Gaza Ismail Haniyah? Inilah yang menjadi pertanyaan sejak serangan Israel pada 27 Desember 2008 lalu.

Sejak serangan, tidak banyak komentar yang muncul dari para pemimpin Hamas. Terakhir, pada 31 Desember, kantor berita Reuters menuliskan komentar Haniyah kepada warga Palestina bahwa, ”Kemenangan sudah dekat.”

Tujuh hari setelah itu, tidak terdengar lagi komentarnya. Lalu, pada 1 Januari, yang ada adalah berita kematian Nizar Rayan bersama para istri dan 10 anaknya, setelah Israel menyerang hunian mereka di kamp pengungsi Jabalya.

Kantor berita Reuters mengatakan, para pemimpin Hamas sudah bersembunyi karena sadar mereka akan menjadi target serangan. Radio Hamas memberitakan Rayan sudah diperintahkan meninggalkan huniannya, tetapi menolak melakukan itu.

Selebihnya, tidak juga ada berita soal para tokoh Hamas. Jerusalem Post memberitakan komentar Haniyah, itu pun tertanggal 31 Desember. ”Situasi di Jalur Gaza setelah serangan Israel akan berbeda. Ini adalah serangan yang membelah dua era dan, dengan pertolongan Tuhan, kemenangan akan menjadi milik kita karena orang-orang ini berdiri tegar, perlawanan tetap kukuh, pendudukan akan gagal. Doa saya untuk semua mereka yang telah menjadi korban,” kata Haniyah.

Haniyah mengatakan, ”Palestina mengikuti opini internasional. Kami merasa Israel melawan Arab dan Muslim di dunia lain tidak akan pernah menerima perang gila ini, yang menyerang warga tak bersenjata yang tinggal di daerah sempit, tetapi mereka adalah orang-orang hebat dan kuat.”

”Jalur Gaza bukan satu-satu tempat yang menentang agresi ini. Itu yang mereka inginkan. Mereka bermaksud mengisolasi Gaza dari Arab, tetapi Gaza tidak sendirian dan pendudukan tidak akan bermanfaat. Warga Arab telah membuktikan bawa isu Palestina ada di hati mereka.”

Ismail Haniyah mengkritik Mesir yang tidak mau membuka gerbang Rafah, kota di Jalur Gaza yang berbatasan langsung dengan Mesir.

”Pendudukan itu sendiri adalah yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi, yakni agresi dan blokade.”

Kamarahan Abbas

Di New York, Selasa (6/1), Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas mengatakan kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa agar mendukung gencatan senjata yang diprakarsai Mesir.

”Jangan biarkan para ibu Palestina menangis lagi untuk anak-anak mereka. Akhiri pembantaian atas warga saya, biarkan warga saya hidup dan biarkan warga saya bebas.”

Pada 31 Desember lalu, Presiden Mahmoud Abbas juga terlihat marah dan tersirat kemarahannya tertuju pada Israel. ”Terhentinya perundingan telah membuat semuanya sia-sia dan tidak mencapai tujuan, katakanlah, pembentukan negara Palestina.”

”Negosiasi bukanlah tujuan, negosiasi adalah alat mencapai perdamaian. Apabila negosiasi tidak bisa meraih perdamaian ... tak ada guna untuk melanjutkannya,” kata Presiden Mahmoud Abbas.

Kepada warga Gaza, Presiden Mahmoud Abbas mengatakan bahwa Palestina ada di belakang mereka. Dia menyebut serangan militer Israel sebagai pembantaian dan menyebutnya sebagai propaganda murahan untuk kepentingan pemilu Partai Likud, yang memerintah Israel sekarang. (AP/MON)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau