Korban Kebakaran Ingin Cuti Hamil

Kompas.com - 08/01/2009, 18:36 WIB

JAKARTA, KAMIS - Eri Eni Suparti (30) tak dapat mengelak dari kemalangan. Di masa akhir kehamilannya, Tuhan menentukan kehendak lain. Bersama suaminya, Andrianto (28), dan bayi yang dikandungnya, Eri tewas dalam musibah kebakaran di Kelurahan Jati Pulo, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat, Kamis (8/1) dinihari.

Pada saat kejadian, Eri sudah mengandung sembilan bulan dan tinggal menunggu hari kelahiran anak pertamanya tersebut. Padahal, dua hari nanti ia sudah berencana ke kota kelahirannya, Jepara. Sabtu (10/1), Eri dan suaminya berniat pulang ke kota di utara Jawa Tengah itu. Tuhan ternyata lebih dulu memanggilnya pulang ke alam baka bersama enam korban lain dalam peristiwa tersebut.

Malang memang tak dapat ditolak. Pamannya yang tinggal di bilangan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, sudah menyarankannya kembali ke Jakarta sebelum pergantian tahun agar Eri memiliki waktu persiapan persalinan lebih matang dan tidak terburu-buru.

"Tapi dia lebih memilih tanggal 10 besok, mendekati kelahirannya," kata Nasrul, sang paman, saat sedang menunggu jenazah di Ruang Otopsi RSCM. Nasrul menuturkan, pasangan tersebut telah menikah dua tahun lalu.

Keduanya bertemu ketika bekerja di sebuah bengkel AC mobil di kawasan Cipinang, Jakarta Timur. Mereka akhirnya berpisah tempat kerja, tapi hubungan asmara keduanya tetap berlanjut. "Tahun 2007 mereka akhirnya menikah," kenang Nasrul sambil mencoba menenangkan istrinya duduk menangis di sampingnya.

Nasrul mengisahkan, setelah keponakannya menikah, keduanya memutuskan tinggal di kos-kosan di Jalan Buni, Jati Pulo, Palmerah. Andrianto bekerja di kawasan Tomang, tak jauh dari rumah kontrakan tersebut, sedangkan Eri tetap bekerja di Cipinang.

Sementara itu, Erma, rekan sekerja Eri mengungkapkan bahwa Eri merupakan pribadi yang baik dan pendiam. "Dirinya pribadi yang dewasa, saya selalu bercerita tentang banyak hal kepadanya. Saya percaya karena kami berteman hampir lima tahun," katanya.

Erma juga bercerita, Eri sebenarnya sudah ingin mengajukan cuti sejak Oktober 2008 tapi tidak dilakukan. Alasannya, jika mengambil cuti mendekati hari kelahiran, akan ada waktu cukup panjang untuk beristirahat dan mengurus sang jabang anak.

Ternyata Tuhan berkata lain. "Si jago merah" telah merenggut mereka berdua bersama buah hatinya. Mungkin ini cara Yang Maha Kuasa memberikan kehidupan bahagia abadi di sisi-Nya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau