JAKARTA, KAMIS - Eri Eni Suparti (30) tak dapat mengelak dari kemalangan. Di masa akhir kehamilannya, Tuhan menentukan kehendak lain. Bersama suaminya, Andrianto (28), dan bayi yang dikandungnya, Eri tewas dalam musibah kebakaran di Kelurahan Jati Pulo, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat, Kamis (8/1) dinihari.
Pada saat kejadian, Eri sudah mengandung sembilan bulan dan tinggal menunggu hari kelahiran anak pertamanya tersebut. Padahal, dua hari nanti ia sudah berencana ke kota kelahirannya, Jepara. Sabtu (10/1), Eri dan suaminya berniat pulang ke kota di utara Jawa Tengah itu. Tuhan ternyata lebih dulu memanggilnya pulang ke alam baka bersama enam korban lain dalam peristiwa tersebut.
Malang memang tak dapat ditolak. Pamannya yang tinggal di bilangan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, sudah menyarankannya kembali ke Jakarta sebelum pergantian tahun agar Eri memiliki waktu persiapan persalinan lebih matang dan tidak terburu-buru.
"Tapi dia lebih memilih tanggal 10 besok, mendekati kelahirannya," kata Nasrul, sang paman, saat sedang menunggu jenazah di Ruang Otopsi RSCM. Nasrul menuturkan, pasangan tersebut telah menikah dua tahun lalu.
Keduanya bertemu ketika bekerja di sebuah bengkel AC mobil di kawasan Cipinang, Jakarta Timur. Mereka akhirnya berpisah tempat kerja, tapi hubungan asmara keduanya tetap berlanjut. "Tahun 2007 mereka akhirnya menikah," kenang Nasrul sambil mencoba menenangkan istrinya duduk menangis di sampingnya.
Nasrul mengisahkan, setelah keponakannya menikah, keduanya memutuskan tinggal di kos-kosan di Jalan Buni, Jati Pulo, Palmerah. Andrianto bekerja di kawasan Tomang, tak jauh dari rumah kontrakan tersebut, sedangkan Eri tetap bekerja di Cipinang.
Sementara itu, Erma, rekan sekerja Eri mengungkapkan bahwa Eri merupakan pribadi yang baik dan pendiam. "Dirinya pribadi yang dewasa, saya selalu bercerita tentang banyak hal kepadanya. Saya percaya karena kami berteman hampir lima tahun," katanya.
Erma juga bercerita, Eri sebenarnya sudah ingin mengajukan cuti sejak Oktober 2008 tapi tidak dilakukan. Alasannya, jika mengambil cuti mendekati hari kelahiran, akan ada waktu cukup panjang untuk beristirahat dan mengurus sang jabang anak.
Ternyata Tuhan berkata lain. "Si jago merah" telah merenggut mereka berdua bersama buah hatinya. Mungkin ini cara Yang Maha Kuasa memberikan kehidupan bahagia abadi di sisi-Nya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang