Prospek Properti 2009 Belum Terlalu Cerah

Kompas.com - 09/01/2009, 12:11 WIB

JAKARTA, JUMAT — Tahun ini, mungkin bukan tahun yang cerah bagi industri properti nasional. Baru masuk awal tahun, sebagian pelaku bisnis properti sudah merasa sektor ini akan sendu karena krisis global yang sedang mendera. Maklum, gerak roda ekonomi yang loyo, ditambah suku bunga yang masih tinggi, pasti akan memengaruhi daya beli dan permintaan.

Associate Director PT Procon Indah, Utami Prastiana, menilai permintaan akan tertekan oleh pertumbuhan ekonomi yang melambat. Apalagi kalau suku bunga bank masih bandel bertengger di level tinggi, industri properti bakal susah. "Jangan lupa, sekitar 90 persen konsumen perumahan, khususnya rumah kelas menengah dan bawah, tidak bisa dilepaskan dari kredit pemilikan rumah (KPR)," katanya.

Presiden Direktur Era Bintaro Century Saut Sitanggang mengakui hal yang sama. Di saat ekonomi lesu, biasanya permintaan rumah menengah dan bawah akan terpukul. Harapan hanya ada dari segmen perumahan menengah atas dan atas. "Pasar perumahan menengah atas relatif lebih stabil karena pembelinya tidak price sensitive. Mereka lebih mengutamakan kualitas," ucapnya.

Karena punya uang, umumnya mereka membeli rumah dengan tunai atau tunai bertahap karena tidak bergantung pada suku bunga bank. "Segmen perumahan menengah atas memang relatif bebas dari tekanan inflasi dan tingkat suku bunga," tambah Presiden Direktur PT Bakrieland Development Tbk, Hiramsyah S Thaib.

Ia mengaku akan memfokuskan pasar pada kelompok elite. "Permintaan rumah kelompok masyarakat ini akan terus merangkak naik," katanya.

Pengembang lain, Summarecon, bahkan sudah siap dengan strategi merengkuh kalangan atas ini. Direktur utama PT Summarecon Agung Tbk Johanes Mardjuki mengatakan, salah satu strateginya dengan membuka kawasan permukiman elite yang dilengkapi fasilitas pendidikan.

Ia mencontohkan Scientia Garden yang saat ini sedang digarap Summarecon. Nantinya, di kawasan ini akan dibangun kampus Universitas Multimedia Nusantara. "Pembeli memang menginginkan fasilitas yang lengkap, misalnya tersedianya lembaga pendidikan," ujarnya.

Subsidi akan membantu

Toh, tidak semua beranggapan prospek permintaan rumah kelas menengah dan bawah akan suram. Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Teguh Satria mengaku optimistis prospek bisnis perumahan masih baik pada 2009 mendatang. Alasannya sederhana: "Jumlah penduduk terus bertambah, kebutuhan akan rumah juga akan terus meningkat," katanya.

Teguh menilai pasar kalangan menengah dan bawah masih tetap memiliki potensi. Dasarnya adalah anggaran subsidi perumahan dan rumah susun hak milik (rusunami) pada 2009 yang naik dari Rp 800 miliar menjadi Rp 2,5 triliun. "Anggaran itu akan mendukung pembentukan kapitalisasi perumahan sebesar Rp 15 triliun," ujarnya.

Komisaris PT Perumnas (Persero), Maruhum Batubara, punya pendapat serupa. Ia optimistis industri properti akan cerah karena permintaan rumah yang masih jauh lebih tinggi dari penyediaan. "Perkiraan saya, pada 2009 ini akumulasi kebutuhan rumah di Indonesia mencapai 5,6 juta, ditambah 13,1 juta rumah yang tidak lagi layak huni," katanya.

Namun, Maruhum mensyaratkan bunga bank harus turun agar permintaan naik. "Kalau inflasi wajar, sebenarnya tidak ada alasan untuk menaikkan suku bunga," ujarnya. (Kontan/Yohan Rubiantoro, Hans Henricus, Yudho Widianto, Amal Ihsan)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau