Wapres: Libur Panjang Penyebab BBM Langka

Kompas.com - 09/01/2009, 17:15 WIB

JAKARTA, JUMAT — Wapres Jusuf Kalla mengatakan, kelangkaan BBM di Jakarta dan sejumlah daerah berkaitan dengan perubahan sistem penyaluran BBM yang bertepatan dengan libur panjang Natal dan Tahun Baru. Masalah bertambah ketika sepanjang libur Natal dan Tahun Baru, masyarakat justru bergiat untuk berlibur dengan menggunakan kendaraan motor dan mobil.

"Jadi suatu kebetulan sebenarnya," kata Wapres saat memberikan keterangan pers di Istana Wapres, Jakarta, Jumat (9/1).

Menurut Wapres, dengan sistem baru dari Pertamina, pemilik SPBU yang ingin membeli BBM mesti membayar melalui perbankan. Namun lantaran sepanjang libur, perbankan libur, otomatis pembelian BBM terkendala.

"SPBU tidak mengambil karena tidak sempat bayar, karena mereka mesti membayar duluan," katanya.

Wapres menambahkan, dari sisi persediaan BBM, Pertamina memastikan ketersediaan BBM hingga 22 hari. Permasalahan justru menumpuk ketika kebutuhan BBM meningkat akibat masyarakat berlomba-lomba berkendaraan untuk berpergian.

"Lima hari itu libur bersamaan. Pada hari libur itu orang bergerak. Kelihatannya saja di kota sepi, tapi lihat semua macet di mana-mana. Saya di Bali, luar biasa, macet luar biasa," ungkapnya.

Wapres menggambarkan, Indonesia sendiri baru memiliki SPBU sebanyak 4.500. Ketersediaan SPBU ini tidak berjalan seimbang dengan lonjakan pembelian kendaraan motor dan mobil.

"Akibat pertumbuhan ekonomi naik 6,4 persen. Itu pertumbuhan kendaraan luar biasa. Mobil dijual 550.000, dan sepeda motor 6 juta. Bayangkan pertambahan kebutuhan BBM. Berapa tambahan kebutuhan BBM? Hampir 10 persen. Itu pertambahan yang luar biasa," kata Kalla.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau