Penderita Kusta di NTT Kesulitan Obat

Kompas.com - 10/01/2009, 07:42 WIB

Laporan wartawan Kompas Kornelis Kewa Ama

KUPANG, SABTU- Ratusan penderita kusta yang tersebar di 20 kabupaten/kota se-Nusa Tenggara Timur, saat ini kesulitan obat kusta. Sejak Juni 2008 pemerintah pusat tidak lagi mengirim obat kusta ke Nusa Tenggara Timur.

Kepala Subdinas Pemberantasan Masalah Kesehatan dr Boby Koamesah di Kupang, Sabtu (10/1), mengatakan, sekitar 350 penderita kusta di NTT sejak September 2008 tidak lagi mengonsumsi obat kusta.

Ada dua jenis kusta, yakni kusta kering, dapat diberi obat dengan interval waktu --9 bulan, sementara kusta basah mengonsumsi obat antara 12-19 bulan berturut-turut.Ketika obat ituu terhenti, maka proses pengobatan harus dimulai dari awal lagi.

"Obat ini dibagikan cuma cuma kepada penderita karena bersumber dari badan kesehatan dunia WHO. WHO memberikan obat secara gratis kepada pemerintah untuk diteruskan ke penderita," katanya.

Don Sili, Kepala Desa Mewet Wotanulumado, Flores Timur, mengatakan, 50 penderita kusta di desa itu sejak Agustus 2008 tidak kebagian obat kusta. Biasanya setiap awal bulan ada petugas kesehatan bersama yayasan lepra Indonesia mendatangi desa Mewet.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau