Penurunan Tarif Dasar Listrik Harus Diikuti Penurunan Harga Produk

Kompas.com - 10/01/2009, 07:44 WIB

JAKARTA, SABTU — Kamar Dagang dan Industri Indonesia mengusulkan stimulus ekonomi yang antara lain diperkuat dengan penambahan subsidi pada PLN agar dapat menurunkan tarif dasar listrik.

”Perlu ditambah subsidi pada PLN sebagai bagian dari stimulus ekonomi agar PLN bisa menurunkan tarifnya pada dunia usaha. Tarif listrik yang murah itu stimulus yang penting dan dibutuhkan,” ujar Ketua Umum Kadin Indonesia Mohamad S Hidayat seusai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama sejumlah menteri bidang ekonomi di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (9/1).

Menurut Hidayat, pemerintah memberi sinyal persetujuan pada usulan penurunan tarif dasar listrik (TDL) itu.

Penurunan bahan bakar

Secara terpisah, Pelaksana Jabatan Menteri Koordinator Perekonomian serta Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, dengan penurunan harga bahan bakar minyak yang sudah dilakukan, pemerintah akan menghitung lagi dampaknya pada struktur biaya PLN.

”Kami akan lihat apakah ada aspek-aspek efisiensi yang bisa dilakukan,” ujar Sri Mulyani.

Ia mengingatkan, pelaku usaha juga menyikapi tren penurunan harga bahan baku dan ongkos produksi dengan menurunkan harga jual produk. ”Tren penurunan harga secara global tentu memengaruhi biaya produksi. Ini seharusnya tercermin dalam harga akhir yang diberlakukan pada masyarakat,” ujarnya.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Franky Sibarani mengatakan, penurunan tarif listrik memang akan sangat bermanfaat bagi semua industri, baik industri yang berskala besar maupun industri kecil dan menengah.

”Pemerintah perlu mengarahkan stimulus pada penurunan TDL, khususnya biaya beban puncak dan daya maksimum. Ini akan menjadi salah satu bentuk stimulus,” tutur Franky.

Dampak

Menurut Franky, penurunan TDL akan berdampak pada penurunan biaya produksi sekitar 5 persen hingga 10 persen, tergantung jenis industrinya.

Terkait kemungkinan penurunan biaya produksi dan harga jual produk makanan dan minuman, menurut Franky, industri memiliki strategi tersendiri.

Ia mencontohkan, ketika biaya produksi naik pada semester pertama tahun 2008, industri menyiasatinya dengan tidak menaikkan harga secara drastis. Industri lebih memilih memperkecil ukuran atau berat produknya.

Pada waktu mendatang, kata Franky, penurunan harga bahan baku dan kecenderungan penurunan harga bahan bakar minyak serta tarif listrik memang tidak serta-merta menurunkan harga produk.

Sebelum menurunkan harga produk, lanjut Franky, industri akan memilih memperbesar kembali ukuran atau berat produknya.

Hal itu dipandang sebagai salah satu upaya untuk menaikkan daya saing produk makanan dan minuman.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau