JAKARTA, SABTU — Kamar Dagang dan Industri Indonesia mengusulkan stimulus ekonomi yang antara lain diperkuat dengan penambahan subsidi pada PLN agar dapat menurunkan tarif dasar listrik.
”Perlu ditambah subsidi pada PLN sebagai bagian dari stimulus ekonomi agar PLN bisa menurunkan tarifnya pada dunia usaha. Tarif listrik yang murah itu stimulus yang penting dan dibutuhkan,” ujar Ketua Umum Kadin Indonesia Mohamad S Hidayat seusai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama sejumlah menteri bidang ekonomi di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (9/1).
Menurut Hidayat, pemerintah memberi sinyal persetujuan pada usulan penurunan tarif dasar listrik (TDL) itu.
Penurunan bahan bakar
Secara terpisah, Pelaksana Jabatan Menteri Koordinator Perekonomian serta Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, dengan penurunan harga bahan bakar minyak yang sudah dilakukan, pemerintah akan menghitung lagi dampaknya pada struktur biaya PLN.
”Kami akan lihat apakah ada aspek-aspek efisiensi yang bisa dilakukan,” ujar Sri Mulyani.
Ia mengingatkan, pelaku usaha juga menyikapi tren penurunan harga bahan baku dan ongkos produksi dengan menurunkan harga jual produk. ”Tren penurunan harga secara global tentu memengaruhi biaya produksi. Ini seharusnya tercermin dalam harga akhir yang diberlakukan pada masyarakat,” ujarnya.
Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Franky Sibarani mengatakan, penurunan tarif listrik memang akan sangat bermanfaat bagi semua industri, baik industri yang berskala besar maupun industri kecil dan menengah.
”Pemerintah perlu mengarahkan stimulus pada penurunan TDL, khususnya biaya beban puncak dan daya maksimum. Ini akan menjadi salah satu bentuk stimulus,” tutur Franky.
Dampak
Menurut Franky, penurunan TDL akan berdampak pada penurunan biaya produksi sekitar 5 persen hingga 10 persen, tergantung jenis industrinya.
Terkait kemungkinan penurunan biaya produksi dan harga jual produk makanan dan minuman, menurut Franky, industri memiliki strategi tersendiri.
Ia mencontohkan, ketika biaya produksi naik pada semester pertama tahun 2008, industri menyiasatinya dengan tidak menaikkan harga secara drastis. Industri lebih memilih memperkecil ukuran atau berat produknya.
Pada waktu mendatang, kata Franky, penurunan harga bahan baku dan kecenderungan penurunan harga bahan bakar minyak serta tarif listrik memang tidak serta-merta menurunkan harga produk.
Sebelum menurunkan harga produk, lanjut Franky, industri akan memilih memperbesar kembali ukuran atau berat produknya.
Hal itu dipandang sebagai salah satu upaya untuk menaikkan daya saing produk makanan dan minuman.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang