Turki Tengahi Krisis Gas Eropa

Kompas.com - 10/01/2009, 22:35 WIB

ANKARA, SABTU - Menteri Energi dan Sumber Daya Alam Turki Mehmet Hilmi Guler, Sabtu (10/1), mengatakan Turki sedang mengadakan pembicaraan dengan Rusia dan Ukraina guna mengakhiri percekcokan keduanya mengenai gas alam .
   
Turki melanjutkan upaya penengahannya untuk menyelesaikan sengketa gas alam antara Rusia dan Ukraina, kata Guler sebagaimana dikutip oleh kantor berita setengah resmi Turki, Anatolia. "Kami telah berbicara dengan (perusahaan gas Rusia) Gazprom dan (Perusahaan gas Ukraina) Naftogaz, dan menteri energi kedua negara tersebut," kata Guler.
   
Guler mengatakan ia bertemu dengan Duta Besar Ukraina untuk Turki Sergiy Korsunsky, Kamis (8/1), dan membahas perkembangan baru-baru ini serta usul bagi penyelesaian.
   
Korsunsky menyampaikan kepada Guler surat yang ditandatangani oleh Wakil Perdana Menteri Ukraina, pemimpin Dewan Pelaksana Naftogaz dan komisaris Eropa urusan energi, mengenai tuntutan Ukraina dari Turki bagi suatu penyelesaian, kata Guler.
   
Turki mengetahui secara baik tanggung-jawabnya untuk menyediakan gas alam bukan hanya buat warganegaranya tapi juga buat Eropa. Turki berharap sengketa itu akan dapat diselesaikan sesegera mungkin, kata Menteri tersebut.
   
Pada 6 Januari, Guler mengumumkan aliran gas alam dari jalur barat Rusia ke Turki melalui Ukraina sepenuhnya terhenti.
   
Rusia menghentikan pasokan gas ke Ukraina pada Hari Tahun Baru, setelah kedua negara itu gagal mencapai kesepakatan mengenai pembayaran tunggakan dan harga untuk tahun fiskal 2009 oleh Ukraina.
   
Satu pekan kemudian, Rusia berhenti memompa semua gas ke Eropa melalui Ukraina, dan menyatakan negara tersebut telah terpaksa melakukan tindakan itu karena Ukraina menutup semua jalur persinggahan gas ke Eropa.
   
Sebelumnya, para ahli energi Uni Eropa (UE) mendesak penghasil gas Eropa untuk meningkatkan produksi sementara pasokan gas Rusia ke Eropa melalui Ukraina tetap terhenti. "Luasnya krisis gas saat ini tak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Eropa," kata para ahli energi dari 27 negara anggota UE dalam satu pernyataan setelah pertemuan dengan para wakil industri di bawah kerangka kerja kelompok koordinasi gas UE pada Jumat di Brussels.
   
Mereka membahas dampak krisis gas saat ini dan menilai situasi di masing-masing negara.
   
Sebagai tindakan jangka pendek, para ahli energi UE menyerukan peningkatan produksi di Norwegia, Belanda, Inggris, Romania, dan Polandia untuk mengganti kehilangan gas Rusia, sampai batas produksi  maksimum dan saranan angkutan. "Misalnya, Belanda menyatakan (negara itu) dapat meningkatkan produksinya sampai 10 persen selama dua pekan," kata mereka.
   
Usul lain ialah meningkatkan penarikan dari simpanan gas sampai batas maksimum, yang sudah terpaksa dilakukan oleh banyak negara UE.
   
Sebagian negara UE yang paling terpengaruh juga telah melakukan pengalihan bahan bakar, dan mengganti gas dengan sumber energi lain. Sementara, Bulgaria dan Slowakia melakukan pembatasan konsumsi gas bagi industri dan Hongaria untuk sementara membatasi pasokan gas ke konsumen besar.
   
Para ahli energi UE mengatakan krisis saat ini memperlihatkan perlunya bagi penerapan segera tindakan jangka menengah dan panjang, seperti meningkatkan saling-hubungan antara negara anggota, meragamkan sumber energi dan meningkatkan penanaman modal di bidang penyimpanan.
   
Sedikitnya 15 negara Eropa, kebanyakan di Eropa Timur dan Tengah, telah melaporkan penghentikan pengiriman gas Rusia sampai Rabu.
   
Beberapa negara UE, yang terperangkap dalam sengketa gas dan dilanda cuaca dingin, berhadapan dengan krisis gas serius, sementara pabrik tutup, sekolah tutup dan ribuan orang tak memiliki gas untuk pemanas.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau