Bush Tak Restui Rencana Israel Serang Iran

Kompas.com - 11/01/2009, 11:44 WIB

WASHINGTON, MINGGU — Presiden George W Bush menolak permohonan Israel tahun lalu yang meminta AS membantunya menggeledah kompleks nuklir utama Iran. Permintaan Israel tersebut berupa bom khusus yang dapat meledakkan bunker dan izin melewati teritori udara Irak guna mencapai kompleks nuklir utama Iran di Natanz.  

Seperti diberitakan, Natanz merupakan satu-satunya pusat pengayaan uranium yang diketahui di Iran. Demikian dilaporkan The New York Times dalam edisi online-nya, Sabtu (10/1). Namun, Gedung Putih menolak permintaan tersebut. Kendati demikian, Gedung Putih mengatakan, permintaan tersebut dapat meningkatkan kerja sama intelijen AS dan Israel pada misi terselubung AS untuk menyabotase program nuklir Iran.  

Program terselubung yang dimulai pada awal tahun 2008 terdiri atas rencana untuk masuk ke dalam mata rantai pemasok bahan nuklir Irak di luar negeri serta menghancurkan sistem jaringan listrik dan jaringan lainnya, kata The Times. The Times juga mengutip wawancara dengan beberapa pejabat dan mantan pejabat di luar para ahli dan tim inspeksi nuklir internasional. Menurut mereka, program terselubung ini akan diserahkan kepada Presiden AS terpilih, Barack Obama, yang akan memutuskan apakah program tetap dilanjutkan.  

Menurut The Times, Bush menghindari penyerangan secara terbuka berdasarkan masukan dari pejabat-pejabat senior, seperti Menteri Pertahanan Robert Gates. Gates mengatakan, penyerangan terbuka terbukti tidak efektif dan dapat memicu perang yang meluas di Timur Tengah.

Permintaan Israel untuk terbang di teritori Irak untuk menyerang Iran merupakan buntut dari laporan Badan Intelijen AS di pengujung 2007 yang menyatakan bahwa Iran telah menghentikan pengembangan senjata nuklirnya empat tahun lebih awal. Laporan ini membuat Israel naik pitam. Israel kemudian berusaha menyanggah laporan tersebut, dan menyerahkan bukti-bukti yang menyatakan bahwa Iran masih mengembangkan senjata nuklirnya.  

Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional Gordon Johndroe menolak memberikan komentar, Sabtu.  

Sebelumnya, dalam sebuah wawancara dengan Associated Pers minggu ini, Penasehat Keamanan Nasional Bush, Stephen Hadley, mengatakan, Iran merupakan tantangan terbesar Obama di kawasan Timur Tengah. Ia juga mengatakan, sanksi yang lebih berat dibutuhkan untuk mendesak Taheran mengurungkan ambisi pengembangan nuklirnya serta berhenti mendukung kelompok ekstrimis.  

Hadley menambahkan, pemerintahan Bush telah berusaha untuk menopang dan mengumpulkan pengaruh sebagai warisan kepada pemerintahan Obama.  

Bulan lalu, Obama mengatakan, kombinasi insentif ekonomi dan sanksi yang lebih berat mungkin akan berhasil menekan Teheran. Obama juga mengatakan, dirinya akan mengusahakan diplomasi keras. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau