SEMARANG, MINGGU — Pemerintah daerah juga perlu kreatif dalam upaya mengembangkan industri-industri berbasis kreativitas. Hal ini karena industri tersebut perlu pendampingan dan fasilitas agar dapat diakses pasar.
"Perlu ada ruang dan wadah bagi para pelaku usaha ekonomi kreatif untuk menunjukkan ide-idenya," ujar pengamat ekonomi dari Universitas Diponegoro, FX Sugiyanto, di Kota Semarang, Minggu (11/1).
"Agar bisa tumbuh, industri kreatif di Jawa Tengah memerlukan dukungan dari lingkungannya, termasuk di dalamnya kebijakan pemerintah daerah. Tanpa adanya partisipasi dari semua pihak, kreativitas akan sulit untuk dimunculkan," kata Sugiyanto.
Sugiyanto menambahkan, industri kreatif yang berkembang di Jateng juga tidak terlepas dari sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai sektor perekonomian utama yang menyangga Jateng. "Untuk itu, perlu penanganan serius terhadap sektor informal ini," ucapnya.
Nilai tambah
Usaha ekonomi kreatif, kata Sugiyanto, tidak hanya dinilai dari produknya, tetapi juga dari cara pemasarannya. "Paling penting adalah nilai tambah yang dapat diperoleh," ucapnya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah Banudojo Hastjarjo mengatakan, untuk mendorong terbentuknya nilai tambah, perlu ada diversifikasi produk dari komoditas yang dipasarkan.
Untuk itu, pihaknya mengadakan lomba desain untuk tekstil dan mebel yang dinilai sebagai produk primadona Jateng. Lomba tersebut merupakan bagian dari upaya pengembangan ekonomi kreatif di Jateng yang dimulai sejak tahun 2004 melalui Central Java Design Power (CJDP).
Menurut Banudojo, industri kreatif yang paling menonjol di Jateng adalah tekstil—dalam hal ini batik—dan kerajinan. Dengan CJDP, lanjutnya, daerah yang memiliki potensi dalam mengembangkan usaha kreatifnya terhadap komoditas tersebut telah dipetakan untuk diperkenalkan kepada pasar.
Terkait pencanangan tahun 2009 sebagai Tahun Indonesia Kreatif oleh Pemerintah Indonesia, Banudojo menambahkan, pihaknya tinggal menyesuaikan diri karena telah memulai upaya ini sebelumnya dengan adanya CJDP tersebut.
Desainer logam Meike Sahala Hutabarat mengaku, kreativitas juga berkaitan dengan upaya pelaku usaha untuk mengombinasikan berbagai material yang terdapat di Indonesia. "Hal ini merupakan upaya untuk memperkenalkan keanekaragaman sumber daya alam Indonesia kepada publik internasional," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang