Anak dan Binatang Peliharaan

Kompas.com - 12/01/2009, 14:26 WIB

MENURUT Drh Sutarman MS, Kepala Bidang Pelestarian Flora dan Fauna di Taman Margasatwa Ragunan, anak usia prasekolah memang sering gemas melihat kelucuan binatang. Mereka sering kali merengek minta dibelikan binatang tertentu untuk dipelihara. "Kebanyakan anak mulai menyukai binatang lantaran ia punya pengalaman intens sejak kecil dengan binatang. Biasanya mencontoh dari orangtuanya," tutur dokter hewan yang mayoritas pasiennya merupakan binatang peliharaan anak usia 3-5 tahun.

Misalnya, setiap pagi si anak melihat burung kakaktua kesayangan ayahnya dimandikan lalu dijemur. "Lama-lama ia jadi tertarik. Apalagi kalau sang ayah memperbolehkan ia ikut memandikan, misalnya. Akhirnya dia pun ikut-ikutan memelihara binatang."

Jadi Alat Terapi
Memang, ada pula anak yang tak dibesarkan dalam keluarga penyayang binatang, tapi ingin punya binatang peliharaan. "Mungkin ia menganggap, binatang itu lucu. Atau melihat temannya punya binatang, dia pun ikut-ikutan," jelas psikolog Aswini Widjaya dari Universitas Tarumanegara Jakarta.

Malah di beberapa kelompok bermain, tuturnya, ada yang membuat semacam kebun binatang mini. Di situ terdapat burung, kelinci, anjing, kambing maupun hamster (tikus putih kecil). Binatang-binatang itu bisa dirawat bersama oleh murid-murid.

Karena itulah Aswini melihat, ketertarikan anak usia prasekolah terhadap binataan peliharaan tak bisa dilepaskan dari perkembangan belajar si anak tentang berteman. "Di usia prasekolah, anak mulai mengembangkan kemampuan sosialisasinya dengan belajar berteman. Nah, dalam belajar berteman, ia lalu melihat, ada mahluk lain yang lucu, yang bisa dijadikan teman. Ia menganggap, binatang pun bisa dijadikan teman."

Pendapat ini dibenarkan Sutarman. Anak, katanya, jadi berpikir, "Saya punya sesuatu yang bisa dielus-elus, disayang, dipelihara. Anak jadi merasa exciting, senang." Dengan demikian, sambung Aswini, anak pun belajar, berteman berarti juga memberikan kasih sayang dan perhatian.

Bahkan, seperti ditulis Elizabeth B Hurlock dalam bukunya, anak juga belajar berempati. Sebab, anak tak bisa selalu bersikap dominan terhadap binatang. Kadang si hewan menolak perintah "tuan"-nya. Anak pun jadi belajar bagaimana cara berempati, yang merupakan modal penting baginya dalam menjalin hubungan dengan teman.

Sedangkan Alsion Miles, ahli perilaku binatang dari Inggris dan meneliti persahabatan antara anjing dan manusia, binatang peliharaan bisa dijadikan alat terapi bagi anak-anak bermasalah. Anak yang agresif, misalnya. "Anak-anak agresif, kan, sering tak terkontrol. Mereka perlu memegang sesuatu yang lembut untuk dibelai-belai. Nah, binatang peliharaan dapat membantunya."

Selain itu, binatang peliharaan juga membuat anak belajar disiplin pada waktu. Sebab, pada jam-jam tertentu binatang harus diberi makan/minum, diajak berjalan-jalan, dan lainnya.

Sahabat Dekat

Yang perlu diperhatikan, jangan sampai si anak terlalu dekat dengan binatang peliharaannya sehingga akhirnya ia lebih suka berkutat dengan kucing atau kelincinya ketimbang bergaul dengan kawan sebayanya. Dengan kata lain, ia jadi malas bergaul.

Ini bisa terjadi, menurut Aswini, karena orangtua salah memberi pembelajaran sosialisasi. "Anak kurang diajar bergaul dengan rekan sebaya. Jadi, bukan karena si anak kelewat sayang pada kucing atau kelincinya." Nah, kalau memang si kecil punya minat besar terhadap binatang peliharaan dan amat menyayanginya, "Jangan pikir segalanya beres karena si anak sudah punya teman. Anak harus tetap diajarkan bergaul." Apalagi, kata Aswini, dengan menyayangi binatang, "Anak akan mudah care pula terhadap temannya."

Ditinggal Teman

Begitu sayangnya anak pada binatang peliharaannya, saat si binatang sakit apalagi mati, ia pun merasa sedih alang kepalang. Perasaan sedih semacam itu, kata Aswini pada kesempatan terpisah, amat wajar. "Ia sedih karena kehilangan 'teman' baiknya. Apalagi jika ia sudah menjalin kedekatan emosi sedemikian rupa, tak mudah baginya menerima pengganti kendati mirip atau sama."

Nah, kesedihannya akan pulih setelah ia bisa menerima kenyataan pahit itu. Berapa lama waktunya, tergantung masing-masing anak. Ada yang dalam waktu sebulan sudah bisa melupakan peristiwa itu, tapi ada juga yang perlu waktu lebih lama. "Tergantung ikatan emosi anak dengan si hewan. Semakin erat ikatan itu, makin lama pula waktu yang diperlukannya untuk memulihkan kondisi batinnya."

Apa yang bisa dilakukan orangtua? "Beri reaksi positif! Tunjukkan bahwa kita juga ikut kehilangan dan hormati rasa sedih anak. Jangan menganggap rasa kehilangan yang diderita anak sebagai sesuatu yang ringan atau bahkan mencap si kecil sebagai anak cengeng," tutur Aswini. Apalagi kita sampai berkata dengan entengnya, "Ah, itu kan cuma binatang. Kita bisa cari gantinya!" Buat anak, tak ada yang bisa menggantikan anjing kesayangannya karena ia menganggap si binatang punya keunikan tersendiri yang membuat ia menyayanginya.

Sementara Sutarman menyarankan, orangtua tak usah buru-buru mencari binatang pengganti. "Beri anak kesempatan untuk berduka dan menjalani proses menerima kenyataan. Ini penting agar ia mengerti kehilangan tersebut sebagai sebuah pengalaman berharga. Itu akan membantunya memahami arti kematian dan menyiapkannya menghadapi terjadinya kehilangan-kehilangan selanjutnya di dalam kehidupannya."

Yang tak kalah penting, sambung Aswini, orangtua harus sabar mendampingi anak yang tengah bersedih. Rasa kehilangan ini bisa berlangsung lama sebelum ia akhirnya siap menerima binatang peliharaan baru. "Pada sejumlah kasus, malah si anak tak mau lagi memiliki binatang peliharaan. Mungkin ia takut bakal ditinggal lagi oleh binatang kesayangannya."

Soal hewan pengganti, kata Aswini, "Serahkan pada anak apakah ia ingin mencari penggantinya atau tidak. Anak, kan, seperti kita juga, yang kalau kehilangan teman baik, belum tentu kita menginginkan penggantinya walaupun kehilangan itu sudah berlangsung lama sekali."

Santi Hartono

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau