Tim SAR Gabungan Kekurangan Alat Penyelamatan

Kompas.com - 12/01/2009, 21:02 WIB

MAKASSAR, SENIN — Hingga hari kedua pencarian korban KM Teratai Prima di perairan Majene, Sulawesi Barat, Tim SAR Gabungan mengaku masih kekurangan alat penyelamatan seperti perahu karet.

Hal ini seperti yang disampaikan Kapolresta Kabupaten Majene, AKBP Suyatno melalui telepon, Senin (12/1) malam. Dia mengungkapkan, hingga malam ini pihaknya telah menemukan enam korban tenggelamnya KM Teratai dalam keadaan selamat. "Pencarian korban KM Teratai yang dilakukan mulai pagi hingga malam tadi masih difokuskan di seputar wilayah perairan Baturoro, Kabupaten Majene," katanya.

Total korban yang telah didata Kapolresta Majene, Sulbar, hingga hari ini adalah 23 korban ditemukan selamat. "Kalau dilihat hasil penemuan korban kemarin, pihaknya telah menemukan 17 orang, dan hari ini ditambah 6 korban yang selamat," urainya.

Dia mengeluhkan, sejauh ini tim evakuasi korban tenggelam masih kesulitan untuk memperoleh alat angkutan, berupa perahu karet, yang akan digunakan untuk menyisir daerah perairan Majene.

Hingga saat ini, bantuan, baik dari berbagai institusi maupun TNI dan Polri, terus berdatangan, seperti Brimob Parepare, personel dari TNI AL, Marinir Parepare, Polair Polda Sulbar, serta Syahbandar, dan instansi pemda setempat.

Sebelumnya, Tim Search and Rescue (SAR) Gabungan hingga malam ini terus melakukan pencarian korban kapal tenggelam KM Teratai Prima menggunakan kapal KPLP Alugara dengan 25 anak buah kapal (ABK). "Kami akan melakukan pencarian selama 24 jam," kata Kapten Kapal Alugara Syamsul A Ilyas di Pelabuhan Parepare, sebelum kapal mulai bergerak melakukan pencarian.

Pencarian akan dilakukan pada lokasi tenggelamnya kapal KM Teratai Prima di Perairan Baturoro, Selat Makassar, Kabupaten Majene, Sulbar, dan pada radius di sekitarnya.

Ketika disinggung lambatnya kapal Tim SAR bergerak melakukan pencarian mengingat KM Teratai Prima tenggelam sejak Minggu dini hari (11/1), Syamsul mengatakan, kiriman BBM dari Depo Pertamina Parepare lambat. Pertamina menginginkan dokumen permintaan BBM secara lengkap.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau