Gejolak Laut Dipicu Badai Charlotte

Kompas.com - 13/01/2009, 06:27 WIB

JAKARTA, SELASA — Kemunculan badai tropis saat ini yang diberi nama Charlotte di Samudra Hindia, tepatnya di perairan Teluk Carpentaria, Australia bagian utara, menimbulkan gejolak laut di berbagai wilayah perairan Indonesia.

Namun, badai itu sendiri bukan satu-satunya penyebab gangguan karena mendinginnya daratan Asia juga meningkatkan laju kecepatan angin menuju wilayah khatulistiwa, termasuk Indonesia, sehingga makin memperburuk cuaca.

"Kejadian seperti ini sebetulnya sudah berulang kali. Namun, kita masih mengabaikan sistem basis data sehingga tidak dapat menciptakan sistem peringatan dini yang mudah dimengerti semua pihak," kata Paulus Agus Winarso, peneliti masalah kebumian dan bencana dari Komisi Sains Dasar pada Dewan Riset Nasional (DRN), Senin (12/1) di Jakarta.

Menurut Paulus, genangan air laut (rob) yang memasuki daratan yang terjadi sampai pada Senin kemarin bukan disebabkan gravitasi bulan semata. Sebab, puncak bulan purnama dengan tarikan gravitasi tertinggi yang mengakibatkan laut pasang sudah berlangsung sejak Kamis hingga Sabtu pekan lalu.

Embrio terpantau

Secara terpisah, Sugarin yang menjabat Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Maritim Tanjung Priok, Jakarta Utara, menyampaikan informasi, sejak 6 Januari 2009 sudah terpantau embrio badai tropis Charlotte.

Badai tersebut berkembang dan secara tidak langsung menimbulkan cuaca buruk yang menenggelamkan Kapal Motor (KM) Teratai Prima O di perairan Tanjung Baturoro, Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Minggu dini hari.

"Peringatan dini akan adanya gelombang laut tinggi sudah disampaikan ke semua pihak, termasuk penggerak usaha pelayaran. Namun, masih saja ada yang tetap berlayar," kata Sugarin.

Saat terjadi kecelakaan, KM Teratai Prima O tercatat informasi hujan lebat pada Minggu antara pukul 01.00 hingga 07.00 disertai angin kencang dari arah barat ke timur dengan kecepatan 20 knot atau sekitar 35 kilometer per jam.

Ini akibat gangguan dinamika atmosfer yang disebabkan peningkatan laju kecepatan angin dari daratan Asia menuju pusat tekanan udara rendah (suhu tinggi) di lokasi badai tropis Charlotte di Samudra Hindia.

Fenomena alam itu dipengaruhi rotasi bumi yang mengakibatkan gerak semu matahari ke belahan bumi selatan. Ini menyebabkan suhu belahan utara mendingin, sedangkan di belahan selatan memanas serta menimbulkan pusat-pusat tekanan udara rendah akibat suhu tinggi dan memungkinkan berkembangnya badai tropis.

Pusat Peringatan Badai Tropis (Tropical Cyclone Warning Centre/TCWE) di Jakarta menginformasikan bahwa kondisi badai Charlotte, Senin kemarin pukul 01.00, berada pada koordinat 16,8 derajat Lintang Selatan (LS) dan 141,2 derajat bujur Timur (BT) atau sekitar 1590 kilometer selatan Jayapura.

Badai tersebut memiliki arah gerak ke timur dengan kecepatan 8 knot atau 15 km per jam yang juga berarti bergerak menjauhi wilayah Indonesia.

Saat ini kondisi badai Charlotte mampu memengaruhi kecepatan angin maksimum di wilayah sekitarnya mencapai 45 knot atau sekitar 85 km per jam.

Prediksi untuk 48 jam ke depan hingga Rabu (14/1) pukul 01.00, posisi badai Charlotte pada koordinat 18,1 derajat LS dan 142,7 derajat BT dengan kecepatan angin maksimum turun sampai 20 knot atau 35 km per jam.

Berlangsungnya badai tropis Charlotte berdampak tidak langsung dengan menimbulkan konvergensi atau pusat pertumbuhan awan hujan memanjang dari Sumatera Selatan, Samudra Hindia, pesisir selatan Sulawesi Selatan, hingga Nusa Tenggara Timur. Di Laut Arafura, potensi tinggi gelombang mencapai 3 meter hingga 5 meter.

"Harus diwaspadai, gangguan dinamika atmosfer yang mencelakakan pelayaran itu terjadi pada malam hingga pagi hari," kata Paulus. (NAW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau