JAKARTA, SELASA — Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mengakui sulit menghitung jumlah penumpang yang sebenarnya di kapal penumpang seperti di Kapal Motor Teratai Prima O, yang tenggelam pada Minggu (11/1) dini hari di perairan Tanjung Batu Poro, Sendanu, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar). Pasalnya, banyak penumpang yang diloloskan oleh bermacam-macam alasan. Mulai dari awak kapal sendiri sampai dengan perusahaan pelayarannya sendiri. Bahkan, ada juga yang menyelundupkan sendiri langsung ke kapal.
Demikian diungkapkan Wapres Kalla menjawab pers, di Istana Wapres, Jakarta, Selasa (13/1). "Jadi, hal yang seperti itu, hampir banyak yang terjadi. Karena, kadang-kadang ada yang pura-pura mengantar terus langsung menjadi penumpang. Ada juga yang main-main dengan Anak Buah Kapal. Atau, kadang-kadang, ada perusahaan yang sengaja menaikkan jumlah penumpangnya melebihi batas," ujar Wapres.
Oleh karena itu, tambah Wapres Kalla, pengawas pelabuhan juga harus tegas. "Kalau memang mau ya, pengawas harus menunggu di tangga kapal agar bisa mengontrol dan menghitung satu per satu penumpangnya yang naik," tambah Wapres Kalla.
Sebelumnya, diberitakan KM Teratai Prima O tenggelam dengan mengangkut 250 penumpang dari Pare-Pare, Sulbar, menuju Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim). Saat ini, dengan sudah ditemukan 36 orang berarti masih 214 orang penumpang yang masih dicari. Dari jumlah itu, tercatat 45 penumpang yang tidak tercatat dalam manifes barang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang