Membuka Tahun Baru Jawa dengan Centong dan Munthu

Kompas.com - 13/01/2009, 18:54 WIB

Gerakan berirama centong dan munthu membuka acara kirab tolak bala di lereng Merapi, di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (11/1) pagi.

Dalam acara tradisi khusus merayakan Tahun Baru Jawa atau tradisi Suran, centong dipasangkan dengan tampah dan munthu dipadukan dengan linggis. Dua orang memainkan alat itu. Centong dipukulkan pada tampah dengan irama cepat. Sebaliknya, pukulan munthu pada linggis dilakukan sesekali, menyelaraskan dengan irama gong dan gamelan yang dibawa peserta kirab lain.

Sitras Anjilin, seniman sekaligus pimpinan Padepokan Tjipto Boedojo di Dusun Tutup Ngisor, mengatakan, alat-alat rumah tangga itu wajib dibawa saat kirab tolak bala. ”Suara pukulan centong dengan tampah dan munthu dengan linggis dipercaya menjadi bunyi yang ditakuti oleh roh jahat,” katanya.

Padepokan Tjipto Boedojo menyelenggarakan kirab tolak bala itu dengan melibatkan warga setempat. Kirab dilakukan dengan mengitari kompleks padepokan dan Dusun Tutup Ngisor sebanyak tiga kali. Peserta kirab yang berpakaian Jawa juga berdoa di depan makam Romo Yoso Sudarmo, pendiri padepokan.

Sesuai dengan namanya, kirab bertujuan menolak bala, pengaruh atau kekuatan jahat, agar kehidupan seluruh warga dusun berlangsung aman, tenteram, terhindar dari beragam bencana dan kesulitan hidup.

Untuk menguatkan pesan dari bunyi-bunyian centong dan munthu, Sitras dan peserta kirab mengucapkan mantra-mantra khusus agar kekuatan jahat tersebut benar-benar pergi dan tidak datang ke kawasan lereng Merapi.

”Namun, karena ada kata- kata yang tabu untuk diperdengarkan, maka mantra itu cukup diucapkan dalam hati,” ujarnya.

Malam sebelum kirab, di padepokan diselenggarakan pentas wayang orang sakral berjudul ”Tumuruning Dewi Sri” dan tari sakral Kembang Mayang. Dua pentas seni ini hanya dimainkan setahun sekali.

Pada wayang orang, para tokoh dimainkan oleh orang yang sama setiap tahunnya. ”Pergantian pemain baru dilakukan jika orang yang bersangkutan sudah tua dan tidak mampu lagi terlibat dalam pementasan,” kata Sitras.

Sempat dibekukan

Padepokan Tjipto Boedojo menggelar tradisi Suran sejak 1937. Dalam perjalanan, pelaksanaan ritual ini sempat terkendala situasi negara.

”Tahun 1947, tradisi ini tidak kami jalankan karena di seluruh daerah diberlakukan jam malam oleh Belanda. Akibatnya, pada saat itu terjadi pagebluk (wabah penyakit). Banyak warga dusun meninggal dunia secara misterius,” ujar Ciptomiharso (70), kakak Sitras.

Pada tahun 1948 dan 1949, pelaksanaan tradisi ini pun sempat terancam dibatalkan karena tengah berkecamuk perang melawan Belanda. Namun, tiba-tiba muncul orang asing yang datang mengingatkan mereka.

”Ketika itu, ada seorang pengemis yang datang marah- marah di padepokan dan minta agar tradisi tersebut tetap dijalankan,” tutur Ciptomiharso.

Maka, tradisi itu pun dijalankan sampai kini. Centong dan munthu terus bertalu, menandai sirnanya kekuatan jahat di tahun baru. (Regina Rukmorini)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau