Gerakan berirama centong dan munthu membuka acara kirab tolak bala di lereng Merapi, di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (11/1) pagi.
Dalam acara tradisi khusus merayakan Tahun Baru Jawa atau tradisi Suran, centong dipasangkan dengan tampah dan munthu dipadukan dengan linggis. Dua orang memainkan alat itu. Centong dipukulkan pada tampah dengan irama cepat. Sebaliknya, pukulan munthu pada linggis dilakukan sesekali, menyelaraskan dengan irama gong dan gamelan yang dibawa peserta kirab lain.
Sitras Anjilin, seniman sekaligus pimpinan Padepokan Tjipto Boedojo di Dusun Tutup Ngisor, mengatakan, alat-alat rumah tangga itu wajib dibawa saat kirab tolak bala. ”Suara pukulan centong dengan tampah dan munthu dengan linggis dipercaya menjadi bunyi yang ditakuti oleh roh jahat,” katanya.
Padepokan Tjipto Boedojo menyelenggarakan kirab tolak bala itu dengan melibatkan warga setempat. Kirab dilakukan dengan mengitari kompleks padepokan dan Dusun Tutup Ngisor sebanyak tiga kali. Peserta kirab yang berpakaian Jawa juga berdoa di depan makam Romo Yoso Sudarmo, pendiri padepokan.
Sesuai dengan namanya, kirab bertujuan menolak bala, pengaruh atau kekuatan jahat, agar kehidupan seluruh warga dusun berlangsung aman, tenteram, terhindar dari beragam bencana dan kesulitan hidup.
Untuk menguatkan pesan dari bunyi-bunyian centong dan munthu, Sitras dan peserta kirab mengucapkan mantra-mantra khusus agar kekuatan jahat tersebut benar-benar pergi dan tidak datang ke kawasan lereng Merapi.
”Namun, karena ada kata- kata yang tabu untuk diperdengarkan, maka mantra itu cukup diucapkan dalam hati,” ujarnya.
Malam sebelum kirab, di padepokan diselenggarakan pentas wayang orang sakral berjudul ”Tumuruning Dewi Sri” dan tari sakral Kembang Mayang. Dua pentas seni ini hanya dimainkan setahun sekali.
Pada wayang orang, para tokoh dimainkan oleh orang yang sama setiap tahunnya. ”Pergantian pemain baru dilakukan jika orang yang bersangkutan sudah tua dan tidak mampu lagi terlibat dalam pementasan,” kata Sitras.
Sempat dibekukan
Padepokan Tjipto Boedojo menggelar tradisi Suran sejak 1937. Dalam perjalanan, pelaksanaan ritual ini sempat terkendala situasi negara.
”Tahun 1947, tradisi ini tidak kami jalankan karena di seluruh daerah diberlakukan jam malam oleh Belanda. Akibatnya, pada saat itu terjadi pagebluk (wabah penyakit). Banyak warga dusun meninggal dunia secara misterius,” ujar Ciptomiharso (70), kakak Sitras.
Pada tahun 1948 dan 1949, pelaksanaan tradisi ini pun sempat terancam dibatalkan karena tengah berkecamuk perang melawan Belanda. Namun, tiba-tiba muncul orang asing yang datang mengingatkan mereka.
”Ketika itu, ada seorang pengemis yang datang marah- marah di padepokan dan minta agar tradisi tersebut tetap dijalankan,” tutur Ciptomiharso.
Maka, tradisi itu pun dijalankan sampai kini. Centong dan munthu terus bertalu, menandai sirnanya kekuatan jahat di tahun baru. (Regina Rukmorini)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang