NEW YORK, SELASA - Harga minyak kembali melonjak naik mendekati 38 dollar AS per barrel saat organisasi eksportir minyak OPEC mempertimbangkan pemotongan kembali kuota produksi. Pertimbangan ini diambil saat kelesuan ekonomi global dikhawatirkan akan memperlemah permintaan pasar akan minyak mentah.
Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) Ben Bernanke menjelaskan paket stimulus ekonomi yang disusun Presiden AS terpilih Barack Obama dan mendapatkan tinjauan Kongres diharapkan dapat memberikan dorongan signifikan dalam menggairahkan ekonomi AS yang mengalami kelesuan. Pernyataan Ben Bernanke ini diantaranya berperan dalam mendorong kenaikan kembali harga minyak mentah.
Menjelang pertengahan hari di Eropa, kontrak pengiriman minyak mentah light sweet untuk bulan depan naik 35 sen menjadi 37,94 dollar AS per barrel di bursa komoditas New York Mercantile Exchange. Pada sesi sebelumnya, kontrak ini merosot menjadi 36,10 dollar AS per barrel.
Di London, kontrak pengiriman minyak mentah Brent untuk Februari naik 1,21 dollar AS nmenjadi 44,12 dollar AS per barrel di bursa komoditas ICE Futures. Arab Saudi, produsen terbesar OPEC mengumumkan akhir pekan lalu akan memotong kuota produksi menjadi sekitar 300.000 dollar AS per barrel atau berada di bawah kesepakatan kuota OPEC belakangan.
"OPEC kembali dibuat prihatin dengan pengumuman itu," demikian laporan yang dikeluarkan oleh konsultan energi AS, Cameron Hanover. "Hal ini memicu kemungkinan OPEC untuk kembali menurunkan produksinya guna mendongkrak harga," jelas Cameron Hanover.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang