Saat jumpa pers seusai rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia awal 2009, Gubernur Bank Indonesia Boediono muncul dengan wajah berseri, pertanda perekonomian nasional mulai membaik. Data-data terakhir memang menunjukkan prospek ekonomi 2009 tidak seburuk yang diperkirakan semula.
Target inflasi 2009 yang semula dipatok Bank Indonesia (BI) di kisaran 6,5-7,5 persen, ternyata dalam perkembangannya bisa diturunkan ke level 5-7 persen. Secara tidak langsung, ini berarti daya beli masyarakat bisa terdongkrak.
Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pun diperkirakan tetap kuat meskipun krisis ekonomi global masih berlangsung. Pertumbuhan diperkirakan berada di kisaran 4-5 persen.
Ekspor dan investasi bakal menurun seiring menyusutnya pasar di luar negeri. Oleh karena itu, konsumsi rumah tangga dan swasta, serta belanja pemerintah akan menjadi andalan untuk mendorong pertumbuhan.
Karena risiko inflasi berkurang dan indikator moneter lainnya cukup stabil, BI pun dengan leluasa dapat menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate 50 basis poin (BP), yakni menjadi 8,75 persen. Inilah penurunan BI Rate terbesar sejak Desember 2006.
Untuk mendorong konsumsi swasta, diperlukan pembiayaan. Salah satu sumber pembiayaan yang selalu jadi pilar utama adalah kredit perbankan.
Berdasarkan perhitungan, pembiayaan yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi 4,5 persen adalah sekitar Rp 1.100 triliun. Dari jumlah itu, porsi kredit perbankan sekitar Rp 250 triliun-Rp 300 triliun.
Kredit diharapkan bisa menjadi sumber pembiayaan bagi rumah tangga untuk membeli rumah, kendaraan bermotor, dan keperluan lainnya.
Kredit juga diharapkan diserap oleh swasta untuk membiayai operasional perusahaan sehari-hari. Perusahaan juga diharapkan tetap bisa beroperasi, tidak memecat karyawannya, karena produk yang dihasilkannya masih bisa diserap masyarakat.
Rumah tangga pun tidak ragu-ragu untuk berbelanja karena kemungkinan kehilangan pekerjaan semakin kecil.
Bunga tinggi
Permintaan masyarakat dan swasta untuk meminjam kredit sebenarnya masih cukup besar meskipun ekonomi tengah bergejolak.
Persoalannya, suku bunga kredit yang dipatok perbankan teramat tinggi. Situasi inilah yang membuat laju ekonomi seolah berhenti dalam dua bulan terakhir. ”Bayangkan, bunga kredit kenyataannya masih bikin pusing. Bank masih mematok di atas 18 persen, tidak ada tanda-tanda bunga turun,” kata Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono.
Padahal, lanjut Ambar, pengusaha dihadapkan pada pelambatan ekspor. ”Banyak order ditunda karena masalah cash flow. Kredit sebagai dana talangan perbankan untuk mengerjakan order sampai tahap penyelesaian yang bersifat jangka pendek terlalu mahal bagi pengusaha,” ujarnya.
Menurut Ambar, tingkat suku bunga komersial yang ideal, untuk menggerakkan sektor riil, adalah 11 persen.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi bependapat, sebagai bentuk sense of crisis, tiga bulan ke depan semestinya BI rate bisa diturunkan lagi menjadi 8 persen sehingga bunga turunannya bisa diharapkan turun lagi menjadi 12-13 persen.
Menurut Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, Distribusi, dan Logistik Benny Soetrisno, Bank Indonesia belum memodifikasi perangkat aturannya untuk menolong masyarakat dan dunia usaha di tengah situasi krisis. ”Baru pemerintah yang melakukan itu lewat instrumen fiskal. Padahal, Gubernur BI menjanjikan otoritas moneter dan fiskal akan berjalan seiring,” ujar Benny.
Kinerja keuangan debitor
Peraturan Bank Indonesia (PBI), yang menurut Benny perlu ditinjau ulang menyikapi krisis, antara lain, PBI Nomor 8/2/2006 tentang Perubahan atas PBI No 7/2/2005 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum.
Aturan itu mensyaratkan perbankan mengucurkan kredit pada pelaku sektor riil dengan mempertimbangkan kinerja keuangan debitor, kemampuan membayar, serta prospek usaha.
Penurunan suku bunga acuan akan semakin sulit tertransmisikan pada penurunan suku bunga pinjaman jika premi risiko untuk mengucurkan kredit ke sektor riil dinilai masih tinggi. Terlebih lagi, situasi krisis menimbulkan ketidakpastian usaha bagi hampir semua sektor.
”Lehman Brother yang masuk peringkat AAA++ saja bisa bangkrut. Perhitungan prospek usaha dan neraca perusahaan menjadi tidak cukup relevan pada saat krisis. Yang perlu menjadi dasar seharusnya underlying transaction itu sendiri,” ujar Benny.
Pendapat senada disampaikan Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Fiskal, Moneter, Perpajakan, Kepabeanan, Cukai, dan Kebijakan Publik Lainnya Hariyadi Sukamdani. Ia mengemukakan pentingnya perbankan bersikap adil.
”Kalau bank mengatakan kesulitan likuiditas enggak fair juga. Sekarang pasar modal lesu, investor akan lebih memilih instrumen perbankan, terutama bank domestik, karena bank asing lebih banyak terpapar krisis,” ujar Hariyadi.
Ciptakan iklim
Menurut Hariyadi, Bank Indonesia tidak cukup hanya menurunkan suku bunga. ”Tetapi juga perlu sungguh-sungguh ikut menciptakan iklim yang memudahkan perbankan mengalirkan kredit ke sektor riil,” ujar Hariyadi.
Memang tak beralasan lagi bagi perbankan kini untuk tidak menurunkan suku bunga kredit. BI Rate telah turun 50 BP. Disusul Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menurunkan suku bunga penjaminan bank umum untuk periode 15 Januari-14 Mei 2009, juga sebesar 50 BP menjadi 9,5 persen.
”Kami memang berencana meninjau ulang bunga kredit kami. Akhir bulan ini, kami akan mengumumkan bunga baru untuk KPR,” kata Direktur Bank CIMB Niaga Daniel James Rompas, saat peluncuran kartu kredit CIMB Niaga untuk korporasi (corporate credit card), kemarin di Jakarta.
James Rompas berharap suku bunga KPR yang kini berkisar 15,5-16 persen bisa turun. Adapun untuk suku bunga kredit komersial, penurunannya akan menyusul kemudian. Intinya, kata James, suku bunga kredit kini memang berada dalam tren menurun.
Semoga turunnya suku bunga kredit akan mampu dimanfaatkan oleh sektor riil, untuk menggerakkan roda perekonomian.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang