Sadeli. Usianya tiga puluh tahun. Sambil tersenyum, ia meletakkan dua gelas teh yang kami pesan di atas meja kecil. ”Dari Korea,” tanyanya, disusul senyum sebagai ungkapan keramahan.
”Oh, dari Indonesia. Maaf. Anda berdua saudara saya. Silakan diminum mumpung masih hangat,” katanya dan kemudian meninggalkan kami berdua duduk di kursi plastik warna hijau.
Sadeli, seorang penjual teh, kopi, dan sisha. Warungnya terletak di salah satu pojok kawasan yang disebut Saladin Square di Rafah, Mesir. Rafah sebuah kota yang terbelah menjadi dua. Sebagian masuk wilayah Mesir dan bagian lain masuk wilayah Jalur Gaza yang kini tengah dibombardir oleh pesawat-pesawat tempur Israel.
Kota paling selatan di Jalur Gaza itu dipisahkan oleh tembok, tembok yang menjadi pembatas antara wilayah Mesir dan Jalur Gaza. Rafah Mesir berpenduduk 30.000 jiwa. Jumlah penduduk Rafah Jalur Gaza lebih banyak, yakni 500.000 jiwa.
Yang disebut Saladin Square atau Salahuddin Square bukanlah sebuah tempat yang luas dengan segala aksesorinya yang membuat tempat itu indah. Bukan! Tempat itu adalah sebuah perempatan jalan di pusat kota Rafah Mesir. Sebuah perempatan jalan yang di setiap sisi perempatan berdiri toko-toko dan warung-warung yang kusam catnya. Ada toko kelontong, warung makan, toko serba ada kecil, ada toko pakaian, dan ada pula toko buah.
Di siang hari, tempat itu berubah menjadi pasar. Pasar tumpah. Dan, ketika malam tiba, tempat itu berubah menjadi pangkalan taksi dengan mobil yang sudah tua-tua. Semuanya sedan Mercedes-Benz. Ada yang keluaran tahun 1974 ada pula yang tahun 1986.
Yang ramai, memang hanya kawasan itu. Kawasan lain di Rafah, pukul enam petang saja sudah sepi. Gelap. Yang ada, saat ini, hanyalah tentara. Ada yang berdiri mengobrol, ada pula yang jongkok di seputaran api unggun kecil untuk menghangatkan badan yang disergap hawa dan angin dingin.
Tempat itu dinamai Saladin Square karena salah satu jalan yang bermuara di perempatan itu namanya Jalan Saladin. Bahkan, kawasan itu secara keseluruhan disebut Distrik Saladin. Jalan inilah yang berujung di Gerbang Saladin, gerbang yang menjadi pintu masuk ke Jalur Gaza. Namun, sejak tahun 2000, gerbang itu ditutup.
Saladin yang orang Kurdi itu adalah tokoh dan pahlawan besar dunia Islam. Dialah yang pada masa Perang Salib berhasil merebut Jerusalem dari tangan pasukan Eropa pimpinan Richard ”Si Hati Singa”. Ketika berkuasa atas Jerusalem, ia juga dikenal sebagai tokoh yang mengembangkan toleransi. Semua orang, apa pun suku, etnis, dan agamanya, boleh tinggal di Jerusalem serta bebas menunaikan kewajiban agamanya.
Saladin adalah tokoh besar. Ia pembebas Jerusalem. Akan tetapi, apakah Gerbang Saladin juga menjadi pintu pembebas bagi orang-orang Palestina?
Serba kusam
Sejak tahun 2000, Gerbang Saladin ditutup atas tuntutan Israel karena dianggap sebagai jalan untuk menyelundupkan senjata lewat Mesir ke Jalur Gaza. Mulai saat itu dibangun pintu lain untuk masuk Jalur Gaza. Namun, pintu itu juga ditutup berdasarkan kesepakatan internasional antara Israel, Palestina, dan Uni Eropa. Pintu hanya dibuka untuk para korban bom Israel, bahkan kini dijaga tentara.
Sejak agresi militer Israel tanggal 27 Desember 2008, tentara Mesir ditempatkan di Rafah. Setiap lorong atau jalan yang menuju ke tembok perbatasan, terutama ke Gerbang Saladin, dijagai tentara. Di setiap mulut jalan, dipasang barikade dan truk militer. Siang-malam mereka berjaga; melarang setiap orang—kecuali mereka yang tinggal di kawasan tersebut—melintasi jalan itu.
”Semakin banyak tentara di tempat ini sejak pesawat-pesawat tempur Israel membombardir seberang,” kata Sadeli.
Sadeli menceritakan, suara dentuman dan gelegar ledakan bom itu begitu jelas didengar dari tempat ia berjualan teh dan kopi. Karena jarak antara warungnya dan pintu gerbang itu hanya sekitar 300 meter. Bahkan, dari jarak 15 kilometer pun kepulan asap pekat yang mengangkasa dari ledakan bom terlihat.
”Saban hari kami melihat pesawat-pesawat Israel melayang-layang di atas kota ini. Setelah melepaskan bunga-bunga api yang di malam hari begitu indah, tetapi membawa kematian, pasti segera terdengar ledakan dahsyat. Asap pekat segera membubung ke angkasa. Entah sudah berapa kali hari ini. Banyak, tetapi kami sudah terbiasa,” tutur Sadeli.
Ismail, seorang sopir taksi yang berusia sekitar 50 tahun, menambahkan, ”Saya sejak kecil tinggal di daerah ini. Jadi, sudah begitu terbiasa mendengar suara ledakan bom, suara tembakan, dan merasakan tanah bergetar. Namun, kali ini Israel benar-benar keterlaluan. Ratusan orang tewas, ribuan luka-luka, ribuan orang mengungsi, dan bangunan-bangunan ambruk, hancur. Apa yang mereka maui.”
Israel memang bertindak di luar batas kemanusiaan. Ketika usaha damai terus dicari di meja perundingan antara para wakil Israel, Hamas, ditengahi Turki dan difasilitasi Mesir di Kairo sedang berlangsung, pesawat-pesawat tempur Israel tak henti-hentinya mengebomi kota-kota di Jalur Gaza, termasuk Rafah.
”Sampai kapan ya ini terjadi,” gumam lirih Ahmad, seorang pemuda usia 20 tahunan yang sama-sama minum teh di warung Sadeli. Ahmad bukan penduduk Rafah, tetapi dari daerah lain. Ia di Rafah kerja sebagai pembantu sebuah toko.
Pertanyaan Ahmad itu pula yang diajukan begitu banyak orang, tidak hanya di Rafah, tetapi di mana-mana. Kapan Israel menghentikan angkara murkanya?
Rafah, kota kecil yang belakangan ini begitu terkenal, disebut-sebut di seluruh dunia lewat televisi dan radio, ditulis di koran-koran dan majalah, didatangi puluhan bahkan mungkin ratusan wartawan dari berbagai pelosok dunia, menjadi saksi membabi-butanya Israel. Dan, Rafah tak mampu berbuat apa-apa. Ia tetap kota kecil yang kumuh, berdebu, dengan jalannya yang rusak dan berlubang. Bangunan-bangunannya pun kusam; sekusam masa depan perdamaian Timur Tengah.
”Terima kasih,” kata Sadeli, sambil tetap tersenyum walau semua serba tidak jelas dan kusam, setelah menerima uang teh hangat dan manis yang segelasnya Rp 1.500.
(Trias Kuncahyono/Mustafa Abd Rahman, dari Rafah, Mesir)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang