Siswi SMP Dipaksa Telanjang dan Diperkosa

Kompas.com - 15/01/2009, 09:29 WIB

Laporan wartawan Sriwijaya Post, Ardani Zuhri

MUARAENIM, KAMIS — TG alias MY (45), warga Jalan Sersan Efendi, Kelurahan Pasar II Muara Enim, tega memerkosa anak tirinya, Bunga (15)—bukan nama sebenarnya—yang masih duduk di kelas III SMP di Kota Muaraenim. Aksi bejat ini tidak hanya sekali dilakukannya melainkan sudah berkali-kali.

Tersangka MY di depan penyidik Polres Muaraenim, Rabu (14/1), mengatakan, perbuatan tersebut pertama kali dilakukannya pada bulan Juli 2008 sekitar pukul 23.00 di kamar ruko milik tersangka.

Pada waktu itu korban sedang tertidur lelap. Secara tidak sengaja MY melihat kemolekan tubuh korban yang membangkitkan birahinya. Ia pun berusaha menelanjangi korban, tetapi korban terbangun dan berontak. Waktu itu MY menghentikan aksinya karena takut ketahuan istrinya.

Belum berhasil menyalurkan hasratnya, MY kembali mengulangi aksinya September 2008 sekitar pukul 14.00. Kali ini ia mengancam Bunga sehingga gadis itu terenggut keperawanannya. Merasa aman, aksi bejat tersebut diulanginya sekitar November 2008 sekitar pukul 10.00 ketika korban hendak mandi. Di dalam kamar mandi, Bunga kembali diancam dan diperkosa.

Namun, ketika sedang beraksi, istri MY memanggil korban. Aksi bejatnya pun terpaksa diurungkan dan ia tergopoh-gopoh keluar kamar mandi. Sialnya, istrinya memergoki. Karena khawatir terjadi apa-apa dengan anaknya, istrinya pun langsung membawa korban ke bidan untuk memeriksakannya dan ternyata korban sudah tidak perawan lagi.

Setelah didesak, akhirnya korban membuka aib yang telah menimpanya. Istrinya pun melaporkan kejadian tersebut ke Polres Muaraenim. Di depan penyidik, Bunga membenarkan jika dirinya telah dinodai ayah tirinya berkali-kali.

Dilarang pacaran

Peristiwa itu berawal ketika Bunga dilarang pacaran. Namun, ia nekat pacaran secara diam-diam dan akhirnya ketahuan. Atas pelanggaran tersebut, MY memberikan tiga pilihan hukuman kepadanya. Pertama, ia harus telanjang di pasar, kedua telanjang di depan bengkel, atau ketiga harus telanjang di depan dirinya. Karena malu dan takut dengan ancamannya, korban pun akhirnya memilih telanjang didepan tersangka. Saat itu MY sempat meraba-raba tubuh anak tirinya itu.

Semenjak peristiwa tersebut, MY berulang kali mencoba memperkosanya, tetapi ia melawan. Sampai akhirnya tersangka kembali memaksanya disertai ancaman dan akhirnya ia pun diperkosa.

Sementara itu, ketika dikonfirmasi ke Kapolres Muaraenim, Rabu, AKBP Drs Refri Andri melalui Kasatreskrim AKP Fredo SIk membenarkan adanya kejadian dan laporan tersebut. Saat ini pihaknya telah mengamankan tersangka dan telah melakukan pemeriksaan baik terhadap tersangka maupun korban.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau