UIN Syarif Hidayatullah Bangun Kompleks Fakultas Kedokteran

Kompas.com - 15/01/2009, 18:11 WIB

JAKARTA, KAMIS — Proyek peningkatan sarana dan prasarana Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (FKIK UIN) Syarif Hidayatullah diresmikan pada Kamis (15/1) di Ciputat, Tangerang, Provinsi Banten. Proyek ini akan direalisasikan melalui bantuan pinjaman yen dari Pemerintah Jepang kepada Pemerintah Indonesia.

Acara itu dihadiri Duta Besar Jepang Shiojiri, Kepala Kantor Perwakilan JICA Sakamoto, Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni, dan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

"Ini perlu kita maknai sebagai peletakan fondasi berpikir dan landasan pijak untuk memulasi langkah-langkah besar dan merealisasikan gagasan brilian demi pembangunan dan kesejahteraan umat dan warga negara," ujar Basyuni.

Proyek ini telah ditandatangani pada 31 Maret 2005 dan direncanakan akan selesai pada tahun 2011. Keseluruhan biaya yang dibutuhkan adalah 3,5 miliar yen, sebanyak 2,98 miliar yen di antaranya adalah bantuan berupa pinjaman lunak dari Pemerintah Jepang. Proyek ini berada di bawah tanggung jawab Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI.

Kegiatan proyek itu adalah pembangunan asrama FIKIP, pemberian bantuan peralatan belajar-mengajar, dan pengiriman kandidat dosen ke Jepang untuk tugas belajar. Sarana dan prasarana yang akan dibangun dan dijadwalkan selesai pada Desember 2009 adalah pembangunan gedung fakultas dengan luas bangunan 15.000 meter persegi yang terdiri dari 5 lantai, dengan luas tanah 26.000 meter persegi.

Duta Besar Jepang Shiojiri dalam sambutan tertulisnya menyatakan bahwa proyek itu diharapkan bermanfaat bagi kemajuan bidang medis di Indonesia. Ia juga berharap para mahasiswa FKIK UIN Syarif Hidayatullah bukan hanya dapat menjadi ahli medis, melainkan juga dapat menjadi pemimpin Indonesia yang baik di kemudian hari.

Dekan FKIK UIN Syarif Hidayatullah Prof M K Tadjudin menjelaskan, kerja sama antara UIN dengan Pemerintah Jepang telah dirintis sejak tahun 2003.

"Kami berupaya mendidik para mahasiswa menjadi dokter yang mempunyai kompetensi profesi yang baik tetapi juga mempraktikkan ilmu kedokteran bernapaskan islami antara lain dengan bersikap baik terhadap pasien. Kami ingin menanamkan nilai bahwa melayani kesehatan masyarakat adalah ibadah," ujarnya.  

Citra diri

Mengingat aspek kesehatan dan pendidikan jadi indikator penting bagi Indeks Pembangunan Manusia, pembangunan gedung FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta punya peran signifikan bagi kemajuan dan keberhasilan pembangunan Indonesia. Pembangunan ini bermakna ganda yaitu penyiapan sumber daya manusia di bidang kesehatan yang memiliki integritas keilmuan dan keislaman tinggi, serta penyediaan layanan kesehatan bermutu bagi masyarakat, ujarnya.

Kedudukan UIN, lanjut Maftuh, harus menunjukkan ciri khas dan citra diri sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam, yang berbeda atau membedakan dirinya dengan universitas-universitas lainnya. Pembedaan ini bukan pada tampilan fisik atau perubahan nomenklatur, tetapi pada kinerja akademik dan keunggulan kompetitif apa yang hendak ditawarkan oleh UIN dengan membuka fakultas-fakultas umum seperti kedokteran ini.

Saat AIN bertransformasi menjadi UIN, banyak kalangan mempertanyakan atau meragukan apakah UIN akan mampu menjaga identitas kulturalnya atau larut dan berubah haluan. Apalagi fakultas-fakultas umum sudah ditangani universitas-universitas besar, seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah mada, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Brawijaya.

Semua pertanyaan dan keraguan masyarakat itu harus dijawab UIN dengan mengedepankan kerangka kerja yang strategis, visi yang jelas, capaian terukur, serta menonjolkan prestasi akademik sebagai perguruan tinggi Islam ternama, kata Maftuh. Keberadaan perguruan tinggi itu adalah satu-satunya saluran mobilitas sosial paling penting bagi anak-anak Muslim dari madrasah dan pesantren.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau