MAGELANG, KAMIS — Menyusul penurunan harga BBM untuk ketiga kalinya, Kamis (15/1), Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan (Organda) Kabupaten Magelang mulai bergerak, mengkaji persentase penurunan tarif angkutan yang akan diberlakukan. Upaya ini dilakukan dengan mengumpulkan data-data di lapangan, serta menyurvei keinginan konsumen.
"Pengamatan, survei, dan pengumpulan data di lapangan akan kami lakukan di terminal-terminal selama beberapa hari ke depan," ujar Ketua Organda Kabupaten Magelang Dulchori Arief, Kamis.
Dalam pendataan tersebut, Organda juga akan melihat kualitas dan kondisi jalan yang dilalui oleh beberapa trayek. Hal ini perlu dilakukan karena tarif angkutan untuk rute yang melintasi daerah pegunungan tidak boleh diperlakukan sama dengan yang melewati jalan-jalan di perkotaan.
Untuk memenuhi permintaan pasar, Dulchori mengatakan, sejumlah rute angkutan di Kabupaten Magelang, seperti angkutan yang melayani rute ke Kecamatan Bandongan, Salaman, dan Muntilan, sudah mulai menurunkan tarif, dengan besaran penurunan yang masih bervariasi. Namun, besaran penurunan tersebut belum disepakati oleh Organda.
Sejauh ini, Dulchori menerangkan, pihaknya juga masih kebingungan untuk menetapkan persentase penurunan karena masih mahalnya harga onderdil dan berbagai sarana pendukung mesin, seperti oli dan aki.
"Agar memperoleh solusi yang tepat, kondisi lapangan dan mahalnya harga onderdil ini akan kami laporkan dalam rapat bersama se-Jawa Tengah tentang penurunan harga BBM dan tarif angkutan yang akan diselenggarakan besok pagi (hari ini)," ujarnya.
Sejak harga premium diturunkan menjadi Rp 5.000 per liter bulan Desember lalu, harga onderdil justru naik dua kali lipat. Harga aki melonjak tiga kali lipat dan demikian juga dengan oli.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang